Sudah 1,5 tahun berlalu sejak kejadian itu, lukanya tidak pernah terasa menyakitkan lagi.
Entah karena telah terobati, terlempar jauh karena usahaku yang begitu besar untuk tidak mempedulikannya, atau ternyata ikhlas sudah muncul di hatiku? Entahlah.
Mungkin, lebih tepatnya keikhlasan yang muncul akibat koordinasi rasa dan logika yang memaksa untuk tidak mempedulikan semuanya.
Aku merasa hebat. Ku pikir aku takkan bisa. Mungkin, memang harus begini. Harus aku yang mundur, dan menghilangkan semua rasa itu. Ya, walau dengan terpaksa.
Aku dapat merasakan hatiku meronta. Tapi logika berkata “Cukup!”. Sudah terlalu lama sang hati dilambungkan naik, kemudian dihempas jatuh. Lagi, dan lagi. Ini waktunya hati beristirahat, sembari menyembuhkan luka.
Pada akhirnya, hati memilih menurut pada logika. Karena setiap hati ingin menginterupsi, sudah terlebih dahulu dibungkam oleh logika. Tidak diberi kesempatan bicara, bahkan dibius saat Ia sudah mulai kambuh lagi.
Hingga sang hati menjadi mati rasa. Menjadi sesuatu yang berbeda. Menjelma sebagai sosok yang tak acuh pada keadaan. Saat logika mengingatkan kembali memori masa lalu, rasa hanya tersenyum dan berkata, “Menyenangkan... Tapi tiada guna. Aku sudah lelah.”.
Entah lelah akan apa. Apakah karena Ia benar-benar sedang berada di puncak lelahnya, atau lelah karena selalu dibungkam logika. Sepertinya keduanya.
Tetapi... setelah sekian lama dijalani dan membiasakan untuk lupa, hasilnya mengagumkan. Rasanya asyik sekali, bisa tersenyum walaupun diguncang oleh fakta yang menyakitkan. Tenang sekali, karena sudah tidak ada lagi pikiran yang meracau dan debar jantung yang kacau.
Sekarang, hati sedang berhibernasi. Kosong, dingin. Entah sampai kapan. Mungkin hingga ada seseorang yang membangunkannya, menghangatkannya, dan meyakinkan hati bahwa semua akan kembali baik-baik saja.
ditulis 11 Januari 2016.
(padahal kenyataannya, 18 Juni 2018, hati masih sedikit merintih. Terlalu banyak hal-hal yang mengingatkannya kembali. Terlalu banyak harapan yang melambungkan hati namun nyatanya membuatnya mati. Mengapa sulit sekali ya, untuk benar-benar sembuh? Karenanya, hati menjadi lebih takut membuka diri untuk siapapun yang ingin hadir.)
Komentar
Posting Komentar