Shortstory: Hembusan Angin Dingin


Sore itu… setelah hujan. Seperti biasa aku duduk di kursi balkon. Mengamati alam, menghayati suasana. Melihat kelabunya awan dan menunggu kedatangan pelangi. Secara tiba-tiba berhembuslah sepintas angin dingin. Akhirnya aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Angin dingin itu mengingatkanku kepada someone special yang pernah melengkapi hidupku. Ya, dia sahabatku. Peristiwa 3 tahun lalu…

          Aku dan sahabatku (Risfi), belum bersahabatan lama. Entah kenapa, sudah terasa akrab seperti teman lama. Saat itu perpisahan kelas dari SD. Bertempat di Villa Puncak. Pada hari itu, acara inti telah selesai dilakukan. Anak-anak bebas melakukan aktivitas. Aku lebih memilih duduk di kursi taman. Tiba-tiba seseorang menghampiriku.
“Hai, Fit. Sendirian aja. Ga main sama yang lain?” sapa Risfi.
“Eh, Risfi. Ngagetin aja. Ga tau lagi pengen sendiri aja. Kamu sendiri?”jawabku.
“Aku.. lagi pengen suasana baru aja, hehe. Kadang bosen juga main sama mereka-mereka lagi.” canda Risfi.
“Oya, kamu mau masuk SMP mana, Fit?” tanya Risfi.
“Belum tau. Mungkin SMP favorit seperti yang teman-teman lain idamkan. Itu juga kalau nilai ku mencukupi. Hahaha. Kamu?”jawabku.
“Ya, sama. Mungkin semua anak di kelas kita lebih memilih masuk SMP itu. Siapa tahu kita bisa bareng-bareng lagi sama yang lain. Hehe.”ucap Risfi.
“Yomaaan. Semoga aja deh yaa.” ucapku.

          Secara tiba-tiba angin yang cukup dingin berhembus. Refleks aku menyedekapkan tanganku.

Risfi: “Kenapa? Kedinginan?”
Fitri: “Ah, ga terlalu kok. Cuma tadi kebetulan ada angin yang dingin.”
(kemudian Risfi melepaskan jaket yang sedang dipakainya dan memberikannya ke Fitri)

Risfi:”Nih, jaket. Pakai aja.”
Fitri:”Ha? Ya ampun gausah kalii._. Gue bisa balik ke kamar kok.”
Risfi:”Gapapa lagi. Pakai aja dulu. Eh yaudah ya, gue balik ke tempat putra.
          Makasih ngobrol-ngobrol nya. Sampai nanti ya.”
Fitri:”Okelah sip.”

Saat acara penutupan (beranjak ingin pulang), aku pun berniat mengembalikan jaket Risfi.
Fitri:”Fi, nih jaketnya. Makasih ya.”
Risfi:”Gausah, ambil aja. Buat kenang-kenangan juga.”
Fitri:”Hah serius nih? Sipdeh gue simpen ya.”

          Jujur, disaat itu aku kaget. Seakan ada makna tersirat dibalik omongan Risfi. Entah kita akan beda sekolah atau bagaimana. Yang jelas aku tidak ingin berpikir berlebihan. Saat dibagikan hasil UASBN, secara keseluruhan nilaiku dan teman-temanku cukup bagus.
Hingga saat pendaftaran SMP pun tiba…
Seperti biasa kami dari SD yang sama berkumpul. Termasuk aku dan Risfi. Kami berbincang-bincang dan bercanda ria. Setelah pendaftaran selesai, kami pun pulang. Namun disaat berbincang itu, aku merasa ada yang aneh. Aku seperti tidak ingin berpisah dengan Risfi. Risfi pun dibalik setiap candaannya tadi seperti ingin mengungkapkan salam perpisahan. Di perjalanan menuju rumah perasaanku sungguh tidak enak.



Beberapa hari kemudian, saat itupun tiba.
Aku sedang berbaring dan membaca komik di kamar, tiba-tiba ponselku berbunyi. Tertulis nama Linda disana.

Fitri:”Ya Lin, kenapa?”
Linda:”Fit….”
Fitri:”hmm? Ada apa sih Lin?”
Linda:”Sahabat kamu Fit…”
Fitri:”Iya, siapa? Kenapa? Ayo dong Lin jangan bikin penasaran-_-“
Linda:”Risfi Fit, dia………… kecelakaan.”
Fitri: “Ah kamu kalau bercanda gausah keterlaluan gitu juga kali.”
Linda: “Asli, aku ga bercanda Fit. Ini serius.”
Fitri: “Gak, gak mungkin.”
Linda: “Harus kuat ya Fit. Aku tau dia sahabat baik kamu. Ikhlasin ya Fit :’]”

Kemudian aku langsung menggeletakkan hpku begitu saja. Tak ku pedulikan omongan dari Linda, misscall dari teman-teman yang lain, dsb.
Aku seperti belum bisa menerima semua ini. Ini bagaikan sebuah mimpi buruk bagiku, dan aku mencoba bangun. Tetapi aku tak bisa. Karena semua ini nyata. Ya, nyata. Rasa sedih menyeruak di dadaku. Aku sesak. Tapi aku mencoba menghapus air mataku. Aku berganti baju dan bergegas ke rumah Linda dan langsung kerumah Risfi.
          Disana aku sungguh tidak kuat melihat Risfi berbaring. Berbaring dalam tidur panjang untuk selamanya. Aku terduduk lemas. Tidak kusangka ini semua begitu cepat terjadi. Dulu Risfi sering mengingatkanku agar selalu semangat dan tabah dalam menghadapi sesuatu. Tapi kali ini sulit. Orang yang memberikanku semangat justru ia meninggalkanku terlebih dahulu.
          Ironisnya, keesokan hari setelah hari duka itu, saat aku melihat pendaftaran online, nama Risfi tepat berada di bagian bawah namaku. Itu berarti Risfi bisa sesekolah denganku. Bulir-bulir air mata seperti menetes dari mataku.

Angin dingin itu… menyimpan sejuta kenangan. Yang tak dapat dilupakan. Kuingat Risfi sudah tenang di alam sana. Dan kemudian aku berfikir untuk mengunjungi makamnya. Risfi, I miss u so much my bestfriend :’]

Komentar