Shortstory: A crazy little thing called love.

Hi, guys! Alhamdulillah saya baru selesai Ujian Nasional. Mohon doanya semoga bisa dapet hasil yang terbaik. Maaf, saya nge-post galau. Memenuhi janji saya untuk Alma Marlia yang minta dibuatkan cerpen ini. Maaf kalau ada kekurangan, selamat membaca! :D


            Brukk! Aku menjatuhkan sebagian bukuku ke lantai. Banyak kertas soal yang kubutuhkan untuk latihan ujian nanti. Aku menjejaki bangku kelas 9 sekarang. Cepat atau lambat, UN akan menemuiku, jadi aku harus bersiap. Setelah aku mensortir semua kertas sesuai pelajaran, semua kurapikan kembali. Namun… ada satu buku yang menarik perhatianku. Oh! Itu diary-ku saat aku kelas 6. Ya, warnanya aku ingat sekali. Pemberian dari teman saat ulangtahunku yang ke 12. Aku berfikir untuk membaca itu dulu, sebelum membaca seabrek kertas-kertas ini. Lembar demi lembar ku baca, dan aku tertawa sendiri. Ini kah aku yang dulu? Hahaha. Tulisanku… apa yang ada dalam fikiranku sampai aku menulis ini semua? Kosa katanya… benar-benar aneh. Untunglah aku cepat sadar. -_- Yaa paling tidak, dibalik semua tulisan ‘alay’ itu, tersimpan sedikit cerita perjalanan hidupku. Ketika senang, sedih, semua perasaankuIt called ‘love’.
           Cinta lawan jenis yang biasa dirasakan oleh anak-anak pubertas sebayaku. Saat itu… saat pertamaku. Facebook sedang naik daun, menjadi trend dimanapun, termasuk sekolahku. Kita saling add, sharing bahkan berbagi informasi disitu. Semua normal-normal saja. Namun ada satu saat, aku sedang kebosanan. Aku melihat daftar chat dan ada beberapa teman sekelasku yang on-kebanyakan lelaki-. Aku menyapa mereka satu-satu dengan ‘hai dee’, sapaan di sinetron Kepompong, yang saat itu sedang terkenal. Beberapa dari temanku yang sudah mengenal sapaan itu, akan membalas ‘hai juga’. Tapi… ada 1 orang yang lain. Sebut saja namanya Haris. Dia membalasnya dengan ‘de? Emang gue adek lo apa’. Agak mengesalkan, namun aku balas lagi “de itu kan sapaan di Kepompong. Ga pernah nonton ya?”. Mungkin dia gak mau kalah, dan membalas “Oh, pernah. Lupa”. Aku membiarkannya, dan beberapa menit kemudian dia mengirim lagi “Emang lo lahir tgl berapa?” Aku balas: “30 januari. Lo?” Dia balas: “Kalah dari lo pokoknya” Aku: “Yaudah, tgl brp?” Dia: “8 April” Selesai sudah chat kami hari itu.
              Hari-hari berikutnya, aku tetap menyapa semua yang aku kenal di chatting list dengan ‘hai dee’, aku kira semua berjalan biasa saja, ternyata ada balasan beda dari Haris. Dia membalas: “Hai kak” Aku: “Kak?” Dia: “Iya, gpp kan? Lagian lo juga lebih tua dari gue” Aku: “Oh haha yaudah gpp”
Aku sama sekali tidak berfikiran bahwa hal itulah yang memulai kisah baruku. Hari-hari berikutnya kita semakin akrab. Bahkan bukan di facebook lagi, di sms juga. Aku menjalani semuanya dengan sangat enjoy, tanpa berfikir apakah aku akan menyukainya atau tidak. Di sekolah pun, sikap kami biasa saja, seperti ke teman-teman lainnya. Namun anehnya, saat dia tidak masuk sekolah, aku merasa ada yang hilang. Padahal, siapa dia?-_- Dan entah aku lupa kapan dan apa sebabnya panggilan kami menjadi ‘aku-kamu’.

Awalnya, semua tertutup dengan sangat rapi. Tapi setelah negara api datang setelah aku lalai, dan ada salah satu temanku yang membacanya, habis sudah. Saat itu aku masih berfikir, aku tidak menyukainya, kenapa harus panik?
Eh, serapat-rapatnya bangkai ditutup, pasti akan tercium juga. Semua jadi meledek aku dan Haris, karena ada salah satu teman yang membaca kode antara aku dan sahabatku yang tahu tentang Haris.
Namun, ada perasaan yang lain.
Dan sejak itu aku bertanya, apa ini yang dibilang ‘suka’? Menanti kedatangan seseorang? Mengkhawatirkan keadaannya ketika tidak ada? Selalu berfikiran tentang orang itu? Dan… gugup apabila berada di dekatnya, itu yang dinamakan suka? Belakangan aku mengiyakan semua pertanyaanku itu. Sebenarnya, aku berfikiran apa mungkin dia juga seperti ini? Ah entahlah. Aku melihat ada satu-dua orang temanku yang sudah berpacaran, sedangkan aku saja baru mengerti apa arti suka saat ini. Dan yang aku bingungkan, apa yang mereka bicarakan ketika berdua? Untuk apa mereka bicara dan berjalan hanya berdua? Hmm.
Sejak kejadian itu pula, aku merasa seperti semua seakan mempersatukan kami(?) Seperti guruku yang menukar teman sebangku ku, Rinda dengan teman sebangku Haris, Dika sehingga kami harus duduk sebangku saat ulangan. Apakah mereka tahu rasanya aku shock, bahkan sangat lambat dalam menggoreskan namaku di lembar jawaban, tidak seperti biasanya. Lalu tutor sebaya yang mengharuskan kami bertukar, lagi-lagi aku mendapatkan timnya Haris. Tim ujian praktek tataboga, kami sekelompok juga.

                   Ada satu kejadian yang membuatku benar-benar shock, tidak menyangka, senang ataupun bingung. Hari itu, 8 Maret 2010, sekitar jam 9 malam. Via, sahabatku tiba-tiba sms, meledek tentang Haris. Aku menjawab dengan santai, itu semua hanya gosip. Namun balasan Via: “Kayaknya Haris suka sama lo deh. 90% gue yakin. Coba gue tanya” Aku hanya bisa terdiam, dan dalam hatiku berkata, “Mana mungkin?”. Tapi ternyata semua mungkin. Via mengirim sms lagi “Eh beneran Nad! Cie cie. Coba tanya aja sendiri sama orangnya”. Aku, orang yang berani mengambil resiko, mengirim sms ke Haris. “Dek, kata via kamu sk sm kk. Bnr apa? Hahaha” Aku juga nggak mengerti kenapa aku berani. Takdir ya. Kalau aku nggak berani, semua itu nggak akan terjadi, hehehe.
Dan coba tebak apa jawaban Haris, “Sdkt kk..” Aku membalas: “Ls, hn dek..” (pecahkan kode itu)
Sungguh, sebenarnya mustahil. Tapi, semua ini nyata. Hm, alhamdulillah. (?)
Besoknya, aku tanya lagi, untuk menghindari kemungkinan saat itu dia salah baca pertanyaan karena sudah malam.
Dan dia balas, “Bkn sdkt, aku bnrn sk kak..” Speechlessss. Bisa gitu ya-_-

Sejak saat itu, semua tetap berjalan sama saja seperti saat sebelum kita mengucapkan kata-kata itu. Bedanya…. Ya silahkan kalian tebak sendiri :D
Semua terlalu panjang untuk diceritakan. Intinya teman iya, sahabat iya, kakak-adik juga bisa, tapi bukan pacar. Saling menyemangati satu sama lain, saling tau jadwal kegiatan, tau anggota keluarga, tau favorit masing-masing, pernah sakit bareng, dsb. Hehe.

Hampir 3 bulan berlalu. Semua masih berjalan baik, sampai terjadi suatu keadaan. Keadaan yang tidak akan diinginkan siapapun. Lost contact. Siapa sih yang menginginkan hal itu? Tidak ada. Itu terjadi beberapa hari sebelum UASBN. Saat ada satu smsnya yang bertuliskan “Kak aku ga blh kontak siapa2 dulu sampai UASBN. Ini juga sekali2. Maaf ya” Ok, aku mencoba memahami keadaan itu. Aku juga perlu fokus. Sebenarnya, aku tidak siap. Membiasakan diri dengan hp yang sepi, dan masih teringat kejadian-kejadian lampau itu sulit. Mau tidak mau, harus bisa. Lagipula… aku siapa?
Perlahan aku mulai terbiasa. Di sms alhamdulillah, tidak juga yasudah.
Aku lupa kejadian selama itu,skip skip dan hari itu datang! 2 Juni 2010 malam. Suatu kejadian yang benar-benar membuatku….entahlah. Aku sms “De?” Dan dia menjawab “Ya?” Agak aneh saat itu. Biasanya selalu ada kata ‘kak. Aku balas “Hmm tumben ga pake kak”. Dan beberapa menit kemudian jengjengjeng….
“Aku hanya ingin jd diriku yang dulu. Ga ada hubungan apa2. Maaf.” “Maksudnya gimana? Kenapa sih?” “Gpp. Aku cuma pengen itu aja.”
Jleb. Semua itu datang begitu tiba-tiba. Tahu rasanya habis lost contact-UASBN-abis UASBN harusnya seneng tiba-tiba dapet kalimat begitu, enak? Aku semakin tidak mengerti akan semua ini. Apa maksudnya? Mungkin kalau lostcontact masih ada kemungkinan baik lagi setelah UASBN. Dan ini nyatanya? Hmm. Mungkin ini yang terbaik.
Besoknya, aku mencoba melupakan sejenak hal ini dengan main kerumah teman. Ada Via. Seperti biasa, dia meledekku “Cie dia apa kabar?” Aku membalas, “udah gaada hubungan apa-apa vi. Semoga dia baik-baik aja” Raut muka Via berubah. “Hah? Serius? Kenapa nad? Kok bisa? Nanti gue bilang ke dia ya?” “Gausah, vi. Nanti dia malah keganggu. Gabisa dipaksa juga kan. Kalau ini yang buat dia bahagia, aku ikhlas kok.”

Tidak cukup disitu, ternyata saat pendaftaran SMP, Haris berbeda sekolah denganku. Jauh. Entah, dalam fikiranku muncul bagaimana aku akan tau keadaan dan kesehariannya. Tapi aku tepis jauh-jauh. Cukup sedih, tapi… aku siapa? Sekarang aku tidak bisa ikut campur lebih jauh. Semua tinggal kenangan. J Sebenarnya ada satu hal yang paling ku takuti.
Ternyata, semua masih baik-baik saja, walau berbeda keadaan. Kita masih berkomunikasi dan bertukar kabar. Jujur, aku khawatir. Entah aku dilanda kekesalan setiap ada yang suka sama dia. Hei, padahal aku siapa? Dan satu hal yang kutakuti terjadi. Dia sudah menjadi milik orang lain. Wah, aku tertinggal. :’)

Banyak teman-temanku berkata “Udahlah, lupain aja. Di 103 masih banyak (?)” Melupakan tidak semudah yang diucapkan. Ya, memang banyak. Tapi tidak ada yang benar-benar bisa kusukai seperti dia. Allah, mengapa harus seperti ini?
Dan sampai 3th ini, aku sudah tertinggal jauh. Jujur, aku tidak pernah benar-benar pindah, hanya mengikhlaskan. Terimakasih, Ris. Sudah pernah mewarnai kanvas hidupku. Memberikan pengalaman yang tak terhingga. Walaupun harus berakhir seperti itu, semoga kita bisa sama-sama dapat yang terbaik. (?) Terimakasih.






Selesai. Maaf berantakan, semoga suka. :D

Komentar

Posting Komentar