Assalamu'alaikum. :)
Guys, I'm free! Free...free...Free talk Kakao Talk. Salah, salah banget. Maksudnya, gue baru selesai Ujian Nasional. Alhamdulillah Allah memberi kemudahan, berharap semoga nilai terbaik, Insya Allah aamiiinn.
Rasanya tuh...kaya berhasil masukin benang ke jarum. Butuh ketelitian dan kemampuan super untuk masukinnya. Terus kalau udah masuk, lega. Sedikit. (?)
4 hari diliputi perasaan campur aduk. 4 pelajarankeramat yang menentukan kelulusan nantinya. Kenapa harus UN sih? Kenapa. 20 paket dengan LJUN tersambung, kertas yang tipis, dan cetakan yang mudah hilang. Terus kalau ada kesalahan harus sekalian ganti soal. Apa ngga nyesek yg udah sampai soal ke 50 dan robek. Rasanya pengen garuk kertasnya. Apalagi tanpa perpanjangan waktu. Tepar aja udah.
Apa yang pemerintah harapkan dari ini semua? Kasihan kami menjadi kelinci percobaan dengan penuh penderitaan. Mana nama harus diterusin, ga boleh disingkat. Gue jadi harus membulatkan 12 huruf tambahan kan.
Kalau dibandingkan tahun lalu, beda cukup jauh. Kenapa harus ada kesenjangan sosial gini (?) Tahun lalu hanya ditanya nama mikroba. Sekarang mikroba itu harus mengubah apa menjadi apa. Cukup pemerintah, ini semua tidak adil. Dan sekarang kita menunggu satu bulan lebih untuk melihat hasilnya. Kita digantung. Hanya untuk menanti sebuah nilai. Liburan pun menjadi tidak tenang. Masih ada secercah beban di kepala yang harus dilepaskan jauh-jauh. Semua menjadi rumit.
Tapi kalau tahun depan masih ada UN, free pukpuk untuk adik-adik yang belajar dari soal UN tahun ini. 20 paketx4 ugh kenyang ya;)
Soal 4 hari kemarin, alhamdulillah gue sangat diberi kemudahan.
Bahasa Indonesia yang sebagian besar mudah, walaupun masih ada yang menyandung, menjebak.
Bahasa Inggris yang butuh super feeling tepat, karena lebih banyak lagi soal yang menyandung, membunuh. Banyak soal yang butuh mengucap istighfar.
Matematika yang butuh ketelitian super, karena banyak angka dan kalimat menjebak. Dan alhamdulillah sejauh ini masih menjadi pelajaran paling lumayan. Dan matematika harapan terbesar untuk menyelamatkan nilai lainnya. Semoga dia gak php.
IPA. Ugh. Penuh dengan soal kontroversial-_- Setajam silet.
Sekarang tinggal tawakal, dan berdoa yang terbaik. :)
Rasanya... baru kemarin gue UASBN sekarang udah UN.
Baru kemarin pake kartu peserta bertuliskan 05-787-028-5 Qotrunnada Fithrotunnisa, sekarang 05-703-070-3.
Baru kemarin pakai seragam putih merah, sekarang putih biru.
Baru kemarin minta do'a sama guru SD, skrg + guru SMP.
Baru kemarin gue memimpin barisan ruang 2, sekarang dipimpin di barisan ruang 4.
Baru kemarin gue koordinir kartu peserta, sekarang dikoordinir.
Baru kemarin berdoa dan muhasabah di masjid SDN Baru 01, sekarang berdoa dan muhasabah di masjid An Nur, bareng SMPN 103.
Baru kemarin dapat pengarahan dari Kepala Sekolah dan guru SD, sekarang Kepala Sekolah dan guru SMP.
Baru kemarin minta doa restu orangtua untuk UASBN SD, sekarang untuk UN SMP.
Baru kemarin degdegan nungguin nem, sekarang udah degdegan lagi.
Baru kemarin pengumuman, sebentar lagi udah pengumuman lagi.
Sepertinya itu semua baru kemarin terlaksana, tiba-tiba udah ada yang baru. Waktu berlalu begitu cepat tanpa disadari. Dan sehabis ini, tiba-tiba udah UN SMA aja. (kalau masih ada) Tiba-tiba udah kuliah aja, masuk jurusan yang diinginkan, aamiin. Tiba-tiba udah skripsi dan wisuda, terus kerja. Waaa cepat sekali. Semoga masih diberi kesempatan untuk mengalami itu semua, aamiin.
Dan pada akhirnya... di akhirat nanti, akan ada kelulusan abadi. Jumlah nilai amal ibadah kita akan menentukan dimana kita ditempatkan, entah surga atau neraka. Dan itu... kekal.
Yuk, introspeksi diri. Perbanyak amal hindari maksiat. Jangan terlalu fokus dengan dunia sehingga lupa dengan akhirat. Toh di akhirat ga ditanya soal matematika/ipa/bahasa indonesia/english. Yang ditanya adalah siapa Tuhan kita, nabi kita, dan bagaimana keimanan kita. Di akhirat ga akan dihitung nem, nilai raport, ijazah ataupun yang lain. Hanya amal ibadah kita. Yuk taubat, jangan ditunda-tunda. :')
Guys, I'm free! Free...free...Free talk Kakao Talk. Salah, salah banget. Maksudnya, gue baru selesai Ujian Nasional. Alhamdulillah Allah memberi kemudahan, berharap semoga nilai terbaik, Insya Allah aamiiinn.
Rasanya tuh...kaya berhasil masukin benang ke jarum. Butuh ketelitian dan kemampuan super untuk masukinnya. Terus kalau udah masuk, lega. Sedikit. (?)
4 hari diliputi perasaan campur aduk. 4 pelajaran
Apa yang pemerintah harapkan dari ini semua? Kasihan kami menjadi kelinci percobaan dengan penuh penderitaan. Mana nama harus diterusin, ga boleh disingkat. Gue jadi harus membulatkan 12 huruf tambahan kan.
Kalau dibandingkan tahun lalu, beda cukup jauh. Kenapa harus ada kesenjangan sosial gini (?) Tahun lalu hanya ditanya nama mikroba. Sekarang mikroba itu harus mengubah apa menjadi apa. Cukup pemerintah, ini semua tidak adil. Dan sekarang kita menunggu satu bulan lebih untuk melihat hasilnya. Kita digantung. Hanya untuk menanti sebuah nilai. Liburan pun menjadi tidak tenang. Masih ada secercah beban di kepala yang harus dilepaskan jauh-jauh. Semua menjadi rumit.
Tapi kalau tahun depan masih ada UN, free pukpuk untuk adik-adik yang belajar dari soal UN tahun ini. 20 paketx4 ugh kenyang ya;)
Soal 4 hari kemarin, alhamdulillah gue sangat diberi kemudahan.
Bahasa Indonesia yang sebagian besar mudah, walaupun masih ada yang menyandung, menjebak.
Bahasa Inggris yang butuh super feeling tepat, karena lebih banyak lagi soal yang menyandung, membunuh. Banyak soal yang butuh mengucap istighfar.
Matematika yang butuh ketelitian super, karena banyak angka dan kalimat menjebak. Dan alhamdulillah sejauh ini masih menjadi pelajaran paling lumayan. Dan matematika harapan terbesar untuk menyelamatkan nilai lainnya. Semoga dia gak php.
IPA. Ugh. Penuh dengan soal kontroversial-_- Setajam silet.
Sekarang tinggal tawakal, dan berdoa yang terbaik. :)
Rasanya... baru kemarin gue UASBN sekarang udah UN.
Baru kemarin pake kartu peserta bertuliskan 05-787-028-5 Qotrunnada Fithrotunnisa, sekarang 05-703-070-3.
Baru kemarin pakai seragam putih merah, sekarang putih biru.
Baru kemarin minta do'a sama guru SD, skrg + guru SMP.
Baru kemarin gue memimpin barisan ruang 2, sekarang dipimpin di barisan ruang 4.
Baru kemarin gue koordinir kartu peserta, sekarang dikoordinir.
Baru kemarin berdoa dan muhasabah di masjid SDN Baru 01, sekarang berdoa dan muhasabah di masjid An Nur, bareng SMPN 103.
Baru kemarin dapat pengarahan dari Kepala Sekolah dan guru SD, sekarang Kepala Sekolah dan guru SMP.
Baru kemarin minta doa restu orangtua untuk UASBN SD, sekarang untuk UN SMP.
Baru kemarin degdegan nungguin nem, sekarang udah degdegan lagi.
Baru kemarin pengumuman, sebentar lagi udah pengumuman lagi.
Sepertinya itu semua baru kemarin terlaksana, tiba-tiba udah ada yang baru. Waktu berlalu begitu cepat tanpa disadari. Dan sehabis ini, tiba-tiba udah UN SMA aja. (kalau masih ada) Tiba-tiba udah kuliah aja, masuk jurusan yang diinginkan, aamiin. Tiba-tiba udah skripsi dan wisuda, terus kerja. Waaa cepat sekali. Semoga masih diberi kesempatan untuk mengalami itu semua, aamiin.
Dan pada akhirnya... di akhirat nanti, akan ada kelulusan abadi. Jumlah nilai amal ibadah kita akan menentukan dimana kita ditempatkan, entah surga atau neraka. Dan itu... kekal.
Yuk, introspeksi diri. Perbanyak amal hindari maksiat. Jangan terlalu fokus dengan dunia sehingga lupa dengan akhirat. Toh di akhirat ga ditanya soal matematika/ipa/bahasa indonesia/english. Yang ditanya adalah siapa Tuhan kita, nabi kita, dan bagaimana keimanan kita. Di akhirat ga akan dihitung nem, nilai raport, ijazah ataupun yang lain. Hanya amal ibadah kita. Yuk taubat, jangan ditunda-tunda. :')
Komentar
Posting Komentar