Shortstory: Mencintaimu Karena Allah


Kisah tentang pertemuan dua insan, yang sangat berarti bagi hidupku, mereka yang dipercaya Allah untuk menjagaku lahir dan batin, yang membimbingku untuk mengenal-Nya, mengenal dunia, mengenal segalanya. Mereka… orangtuaku.

Umi, di masa mudanya seorang gadis yang tinggi, kurus, dan berlatar belakang keluarga religius. Semasa sekolahnya penuh ujian dalam memperjuangkan kewajiban agamanya (karena sulitnya berhijab di saat itu), pendiam, dan belum pernah pacaran.

Abi, di masa mudanya seorang pemuda yang aktif, supel, good looking, jago olahraga. Yang banyak diidolakan kaum hawa di SMAnya.

Setelah lulus SMA, Umi diterima di dua perguruan tinggi negeri berbeda, Sastra Arab UI (D3), dan Pertanian Unsoed (S1). Masuk Sastra Arab adalah impiannya sejak dulu, namun kakek dan nenekku ingin Umi yang anak pertama ini, menjadi contoh bagi adik-adiknya, langsung menjadi Sarjana. Akhirnya, walau diliputi segala kebimbangan, Umi memilih Pertanian Unsoed.

Di sisi lain, 1 tahun sebelumnya, Abi telah memilih Peternakan Unsoed untuk menjadi jenjang pendidikan yang akan ditempuh selanjutnya. Katanya saat itu pikirannya hanyalah mendapatkan PTN. Nggak memikirkan apa jurusannya, prospek pekerjaan ke depan, dst.

Most of my friend yang ftv-ish, langsung nebak, “ketemunya di kampus ya? Tabrakan di jalan, berawal dari minjem buku, atau gimana?”
Hahaha, nope. Tidak se-sinetron itu. :-))

Di kampus, Abi aktif berbagai macam organisasi. Mulai dari Senat, BPM, Theater, dan Rohis. Kepiawaiannya dalam berbicara membuat beliau sering menjadi moderator di seminar-seminar kampus. Abi populer. Good looking, aktif, sholeh, friendly, jago olahraga pula. Beberapa orang yang Umi kenal, diam-diam mengidolakannya. Kata Umi sih, saat itu Umi biasa saja. :P
Sedangkan Umi, aktif di organisasi Rohis. Berbeda sama Abi, Umi nggak sepopuler itu. Yang kenal ya, di ruang lingkup sekitar situ saja.

Sudah kebaca ya, gimana ketemunya. Di Rohis. Sering satu kegiatan, tapi sekedar partner kerja. Kalau rapat-rapat Rohis gitu kan, batas ikhwan-akhwat dipisahkan oleh tirai, jadi lebih sering dengar suara aja.

Singkat cerita, Umi sudah sampai di umurnya yang ke 25. Teman-temannya sudah banyak yang menikah. Kakek dan Nenek sudah sering mempertanyakan, dari yang tersirat “Kamu nggak ada teman laki-laki yang deket?” “Kapan teman-temanmu mampir ke rumah?” sampai yang tersurat “Kapan mau nikah?”. Bahkan dengan lugas, Bude dari Umi sampai bilang, “Jadi perempuan jangan terlalu jual mahal, nanti jadi perawan tua!”
      Pikiran tentang menikah mulai menyusup di antara pusing-pusingnya Umi mau wisuda.
      Do’a selalu Umi panjatkan, agar ditunjukkan oleh Allah lelaki pilihan yang mampu membimbingnya dunia-akhirat.

Karena Allah selalu mendengar do’a hamba-Nya, secercah cahaya itu pun datang. Murabbi—guru di perkumpulan kajian Islam Rohis—Umi, membicarakan tentang ta’aruf dan pernikahan, dan menutupnya dengan pertanyaan “Siapa disini yang sudah siap menikah?”, karena beliau ingin mengenalkan dengan murid dari suaminya. Ditanyalah Umi, “Kamu, siap nggak untuk ta’aruf?”. Umi menjawab dengan meminta waktu untuk istikharah.

Fyi, Murabbi Umi belum menyebutkan siapa orang yang akan dita’arufkan.
Beristikharahlah Umi, meminta petunjuk dengan segenap hatinya, di sepertiga malam terakhir. Kemudian, Allah menunjukkan suatu jawaban, yang benar-benar membuat Umi bertanya-tanya.
Allah memberi Umi mimpi, yang dalam mimpi tersebut, Umi sedang diajarkan mengaji oleh Abi! Kaget dong? Meminta petunjuk sudah tepatkah pilihannya untuk ta’aruf, kok, malah diberi mimpi begitu? Namun Umi yakin, Allah lebih mengetahui apa yang hambanya tidak ketahui.

Dalam pertemuan Umi dan Murabbi selanjutnya, dengen mengucap basmalah, Umi menyatakan keyakinannya untuk ta’aruf.  Diantarkanlah Umi oleh Murrabinya, ke tempat suami Murabbi dan orang yang akan dita’arufkan. Umi masih deg-degan, belum tahu siapa orang yang ada di balik tirai, yang akan dita’arufkan dengannya.

Setelah pertemuan dibuka oleh suami dan Murabbi Umi, dipersilahkanlah lelaki di balik tirai tersebut untuk berbicara. Satu kata yang terlontar dari mulutnya, “Assalamu’alaikum…”. Suara itu sudah menunjukkan sang empunya. Suara yang sudah dikenal banyak orang di kampus itu. Ya, suara Abi! Skenario Allah pasti indah, janji Allah pasti benar, petunjuk dari Allah takkan pernah salah. Laki-laki itu benar-benar Abi. Tepat seperti gambaran mimpi yang didapat Umi dari istikharahnya.

Setelah melalui obrolan panjang, 2 minggu
kemudian, direncanakanla Abi dan Murabbinya untuk datang ke rumah Umi di Jakarta.

Umi langsung mengabarkan orang-orang di rumah, bilang ke Kakek “Pak, mau ada kakak kelas main ke rumah, boleh nggak?”. Wuih, orang rumah langsung seneng. Kakek seneng, Nenek langsung riweuh mau nyiapin segala macem. Udah kayak mau lamaran. X))

2 minggu berlalu, Abi dan Murabbinya datang ke rumah ketemu Kakek, dan voila! Kata Kakek, “niat baik harus segera dilaksanakan. Kalau udah serius, harus tunggu apa lagi?”

Sehabis wisuda, 27 April 1997 akad nikah dilangsungkan, dan mereka resmi menjadi sepasang suami-istri.
Dan mereka bahagia sampai sekarang, dan selamanya. Aamiin :))

Aku sendiri pun masih bingung, kenapa Umi dan Abi bisa sepercaya itu dalam berta’aruf, dan jangka waktunya singkat langsung menikah. Memangnya nggak takut kalau pas menikah ternyata ada sikapnya yang buruk?

Jawaban Umi dan Abi sama, mereka pertama kali melihat dari agamanya. Karena untuk mendekati hamba-Nya, dekati dulu Tuhannya ( Mereka percaya kalau orang sudah taat dengan agamanya, maka perilaku bisa terlihat baiknya, karena tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Umi percaya jawaban atas istikharahnya adalah yang terbaik. Abi percaya bahwa Allah akan mempertemukan dengan pasangan hidup yang terbaik. Mereka juga percaya karena yang mengenalkan adalah masing-masing Murabbi, orang yang sudah dipercaya, yang sudah berpengalaman, dan nggak mungkin merekomendasikan orang yang buruk.
Setelah menikah, baru mereka sadar kalau sebenarnya banyak kejadian yang mempertemukan mereka, karena mereka cuma menganggap sebagai hal yang biasa aja.

Mereka bersama dari bawah, dari 0. Mereka percaya, rezeki tidak akan salah datang. Mereka saling percaya, dan selalu berusaha mewujudkan keluarga yang tidak hanya bahagia di dunia-Nya, namun juga di akhirat-Nya.

“Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku. Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas imbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” HR. Ahmad
❤❤

Komentar