Lapanganku, saksi masa kecilku.


// 2016.
 
Aku pindah ke rumah baruku ini, saat kenaikan kelas 3, umurku saat itu 8 tahun. Pertama kali ku menjajaki lingkungan perumahannya, semua orang terasa sangat welcome.

Setiap malam, anak-anak seumuranku sangat ramai berlarian di depan rumah samai lapangan. Setiap malam, kita selalu bermain apapun permainannya. Engklek, 7 pahlawan, petak umpet, bentengan, galasin, bulu tangkis, tajongkok, colek sabun, karet lompat, kasti, dan banyak lagi.

Seru sekali, pikirku saat itu. Sayangnya, orangtuaku selalu membatasi jam main hanya sampai jam 8 malam. Tetapi, aku masih bisa memperhatikan permainan dari balkon lantai dua rumahku yang menghadap ke lapangan. Terkadang, aku juga suka curi-curi kesempatan untuk kabur ke lapangan. Nantinya, kalau kita bermain kejar-kejaran dan harus melewati depan rumahku, aku meminta teman-teman agar tidak memanggil namaku. Sebegitu lugu dan menyenangkannya. 

Sebelum umurku menginjak 13 tahun, aku masih bisa merasakan keriuhan 17 Agustus. Meluapnya semangat jiwa muda yang selalu menghidupkan hari dirgahayu kemerdekaan negara ini dengan mengadakan berbagai lomba untuk berbagai macam umut, dan mempererat silaturahmi antar warga.
Juara 2 cerdas cermat, juara 2 lomba balap karung, dan juara 1 lomba memecahkan balon tergantung dengan mata tertutup pernah kuraih di atas lapangan ini.

Namun, sekitar satu hingga dua tahun kemudian, efek globalisasi mulai menjamah daerah ini. Perlahan, suara panggilan sahut menyahut anak yang menyamper temannya untuk bermain mulai tidak terdengar. Terganttikan oleh dering bunyi pemberitahuan sosial media, yang padahal isinya sama, “Aku sudah di depan rumahmu, ayo bermain.”. Beberapa kali, masih kulihat anak-anak bermain sepak bola di lapangan. Meskipun lebih sering kulihat anak-anak bermain gadget di teras rumahnya masing-masing.

17 Agustus tidak lagi seindah dahulu. Mulai dari tiadanya bendera yang tergantung diantara tiang-tiang listrik, hingga perginya lomba yang meramaikan suasana dirgahayu negeri ini. Ada peringatannya di lapangan saja sudah syukur. Bahkan, dua tahun terakhir, sudah tidak ada lagi peringatan 17 Agustus. 

Jiwa muda yang dahulu menjadi penggerak, sekarang sudah beranjak dewasa, bebrapa diantaranya sudah berkeluarga. Sedangkan kita, yang dulu menjadi peserta lomba, menjadi lebih apatis, menyibukkan diri berkomunikasi dengan mereka yang jauh, tetapi melupakan apa yang seharusnya ada di dekat kita.

Aku memang sadar, semuanya telah berubah. Seiring berjalannya waktu, aku dan teman-teman masa kecilku beranjak dewasa. Obrolan kita sudah berbeda. Aku semakin berjarak. Menghabiskan waktuku lebih banyak dengan teman-teman sekolahku.
Setiap aku pulang agak malam, kuperhatikan lapangan itu. Nafasnya seakan meredup, entah mengapa.
--

// 2017.
 
Dan saat ini, 2017. Nafasnya sudah benar-benar hilang. Lebih tepatnya, dipaksa untuk hilang.

Teruntuk lapangan, yang menjadi saksi bisu memori dan kesan para generasi terdahulu. Lapangan, yang mulai tertutup oleh bata dan beton, dan segera berubah wujud menjadi bangunan bertingkat milik swasta. Dan bersamaan dengan itu, terkuubur pula berbagai kenangan indah yang pernah digoreskan diatasnya, kenangan masa kecilku, masa kecil kami...

Anak cucu kami tidak akan pernah lagi merasakan betapa indahnya bermain disana, senangnya bermain dan berkumpul dengan teman-teman sebaya, serta hari 17 Agustus yang ramai dengan berbagai perlombaan dan penampilan.

Semoga, terkuburnya kenangan dan lapangan, tidak diikuti dengan pudarnya kebanggaan kita semua terhadap tanggal 17 Agustus. Semoga, semangat generasi mudanya tidak luntur dalam menghidupkan hari kemerdekaan bangsa ini, walau tidak lagi bisa diadakan peringatan di lapangan andalan kita bersama.


Dirgahayu, Indonesiaku. Selamat berulangtahun yang ke-72. Do’a yang terbaik untuk pertiwiku, dan orang-orang yang memiliki identitas akannya. Al Fatihah.

Komentar