A tough yet soft-hearted woman, called Eyang Uti.


Ini cerita tentang ibunya ibu saya, yang sedari kecil saya panggil Eyang Uti. Tulisan ini saya buat untuk menunjukkan kekaguman saya sama beliau, yang benar-benar baru saya pahami di usia saya saat ini.

Dimulai ketika Eyang melaksanakan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal, mulai dari tanggal 2 hingga 7 Syawal, tanpa putus. Padahal di hari-hari tersebut pastinya banyak keluarga datang, makan bareng, pergi kesana kemari, yang biasanya orang ngga enakan untuk menolak kalau diberi makanan dan minuman. Tapi Eyang kuat. Dan yang membuat saya tertampar adalah ketika saya sekeluarga menginap di rumah Eyang, kami ketiduran gaada yang bangun di waktu sahur. Memang, saat itu kami baru pulang setelah perjalanan panjang mudik. Tapi Eyang tetap bangun untuk sahur. Sendirian. Menyiapkan makanan sendiri.

Saat kami bangun, kami minta maaf karena ngga menemani beliau sahur. Dan beliau maklum. Lalu Ayah saya bilang, “Ibu hebat ya Bu, belum putus puasa Syawalnya.”. Eyang jawab, “Ya, Ibu kan udah tua. Gaada yang bisa menjamin Ibu masih bisa puasa Syawal besok atau ngga, apalagi tahun depan. Belum tentu ketemu lagi.”. Padahal, bukan perihal tua atau muda, tapi kita semua juga gaada yang tau apakah masih bisa ketemu hari esok atau ngga. :(

Lalu, kenapa kita yang muda secara hitungan dunia masih dengan sangat percaya dirinya menunda-nunda kebaikan seyakin kita masih diberi umur yang panjang?

Untuk mengisi hari tuanya, Eyang menghabiskan waktu dengan beribadah. Kalau lagi di rumah, selain ibadah wajib ya sholat sunnah, mengaji. Kalau lagi ada jadwal pengajian ya pengajian kesana kemari. Kalau ada cucu yang main ke rumah ya sama cucu.

Eh tapi Eyang juga suka nonton berita, lho! Bahkan beliau lebih tahu kronologi tragedi KM Sinar Bangun dibanding saya. Huhu, malu. Ngobrol soal politik juga masih nyambung. The best.
Terkait dengan judul, Eyang itu orang yang kuat. Sedari kecil Eyang ngga tinggal sama orangtuanya karena katanya anaknya banyak. Jadi Eyang dibawa sama budenya. Itulah kenapa Eyang selalu pengen anak-anaknya dekat sama dia. Eyang ngga pengen anak-anaknya merasakan apa yang Ia rasakan.

Saat Eyang Akung berpulang, penyesalannya tak terbayarkan karena ngga menyaksikan Eyang menghembuskan napas terakhir. Eyang Uti ada ngga jauh darinya, hanya saja Allah membuatnya tertidur. Entah karena alasan apa. Setiap ada yang bercerita tentang Eyang Akung, beliau pasti menangis. Tapi beliau ngga ingin menghindar. Beliau masih ingin ceritanya dilanjutkan, meskipun harus menangis-nangis. Beliau merasa, cerita-cerita itulah yang masih menghidupkan kenangan Eyang, agar keberadaannya masih tetap dirasa dekat.

Bertahun-tahun Eyang Uti mendampingi Eyang Akung dalam sakitnya. Berkali-kali Eyang Akung keluar masuk rumah sakit, Eyang Uti ngga pernah mengeluh capek.

Berputar ke masa lalu, dari cerita-cerita Ibu saya tentang Eyang Uti. Mungkin, saya dapat menyebutnya salah satu orang yang hijrah. Dulu, beliau adalah orang yang cukup keras dalam melarang Ibu saya menggunakan hijab dan mengikuti organisasi kerohanian di sekolahnya. Di zaman itu, tindakannya adalah sifat protektif seorang Ibu terhadap anaknya, mengingat isu aliran sesat sangat kuat saat itu. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin berkembangnya ilmu dan informasi, dan perjuangan Ibu saya yang dapat membuktikan bahwa Ia berada di jalan yang benar sesuai syariat-Nya, Eyang Uti perlahan dapat menerima. 

Jadi, walaupun Eyang Uti adalah orangtua, generasi yang lebih lama, dan lebih dulu mengenyam asam garam kehidupan, Eyang tetap open-minded dan membuka pikiran tentang informasi baru, menyesuaikan dengan perubahan zaman. Ketika perubahan itu sesuai dengan prinsipnya yang beliau anggap benar, ya beliau laksanakan.

...

Semoga Eyang Uti selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang. Love Eyang always.
Semoga tulisan ini bermanfaat.





Ditulis 2 Juli 2018. 

Komentar