Perjalanan di kehidupan pendidikan kedokteran tidaklah mudah. Menyenangkan, tetapi menegangkan. Dulu, saya kira saya masih bisa tetap menjalani hidup dengan pola diri yang sama. Ternyata, saya juga harus beradaptasi mengikuti putaran roda kehidupan. Termasuk juga salah satunya di lingkungan pertemanan. Sejak SD hingga SMA, saya benar-benar hidup di lingkungan yang sama. Letak sekolah yang benar-benar berdampingan dan populasi manusia yang itu-itu saja membuat saya sangat mudah dikenal dan mendapatkan teman. Tetapi sejak memasuki dunia perkuliahan, saya jadi banyak berpikir, punya teman sedekat teman-teman yang dulu ada rumusnya ngga ya? Kok dulu kayaknya saya mendapatkan secara otomatis?
Jadilah di awal semester perkuliahan, saya mencoba dekat dengan semua orang. Ikut kesana, ikut kesini. Paling sering ya ketemu sama Nina, Lala--yang dulu selalu sekelas, dan Esti--teman pertama pas gathering dan tetangga sebelah kosan.
Hingga di suatu titik, saya benar-benar merasa menemukan orang baik yang menolong dan menemukan satu sisi di diri saya yang tidak banyak diketahui orang lain di saat itu. Adalah Ghina, seseorang yang tiba-tiba menelepon saya untuk mengajak berangkat bersama ke gymnasium untuk MPKO di saat hujan deras, di kondisi yang bahkan saya lupa kalau saya minta diajak berangkat bersama. Karena di saat itu pula, ada orang yang benar-benar saya ingat saya ajak berangkat bersama, tampaknya lupa dan tidak menghubungi saya sama sekali. Di suatu waktu yang lain, adalah Astrid, (bersama Ghina) yang habis balik dari perpusat kemudian ketemu saya dan Nina, mengajak kami ke coffee shop, dan menyadari kalau kita orangnya se-kuy itu. Satu titik yang mengantarkan saya, Ghina, Lala, Beem ke jalan-jalan di Bogor, menginap di rumah Astrid dan bercerita tentang segalanya.
Berlanjut kepada pertemuan saya dengan orang-orang baik lainnya, yang akhirnya dipertemukan di satu grup LINE. Ada Beem, seseorang yang pernah duduk di samping saya saat mabim dan tiba-tiba kita sudah bercerita tentang kehidupan, sesuatu yang saat itu sangat jarang saya lakukan. Ada Fona, yang ketika sehabis rapat kastrat pertama kita makan malam dan bercerita tentang kehidupan, saya merasa.. Wow? Sudah lama saya tidak bercerita sedalam ini. Ada Tannia, yang pernah sekelas english sehari dan saya sudah takjub akan kepintarannya, satu kelas praktikum IBD, dan juga seseorang yang selalu seru kalau bercerita. Ada Nire, geng cijantung yang punya banyak teman mutual dengan saya, yang topik pembicaraannya selalu kocak dan luar biasa. Ada Dina, teman satu kelompok mabim yang dulu tidak begitu dekat (karena kelompoknya memang ga dekat haha), yang sering orang bilang galak, tapi yang saya lihat kalau sudah dekat sama Dina pasti orangnya sweet dan seru dan keren. Ada tascit, yang nggak tau kenapa waktu itu tiba-tiba aku ikut surprise tascit??? Mungkin memang sudah diarahkan sama Allah ya cit hehe. Orang yang baik banget juga, dan soft-hearted sekali. Tiga orang yang sudah disebut sebelumnya, Ghina yang sangat heboh dan ketawanya selalu membuat saya ikut bahagia, Astrid yang pemikirannya sangat bagus dan sangat humoris banget juga, dan Esti my ESFJ twins (ga deng, sama-sama ESFJ tapi beda bgt) yang kyuti dan peduli sekali, yang sejak jaman padus kosannya menjadi tempat singgahku ðŸ˜. Juga Nina, teman sejak SD yang sangat baik untuk orang lain dan sangat multitalenta, serta Lala yang sangat aktivis, kocak, dan memiliki jalan hidup yang paling sama dengan saya.
Tahun ini, tahun kedua sejak kita ber-12 dipersatukan. Bersama mereka, saya merasakan menginap sejak jamannya bertumpuk di kamar Esti seorang hingga ada kamar Ghina dan Astrid. Saya merasakan nikmatnya sahur, berbuka puasa, dan tarawih bersama mereka, selagi jauh dari orangtua. Makan dan belajar bersama tentu sudah menjadi agenda wajib kita bersama. Menjalani pahit manisnya kehidupan kedokteran ini bersama. Mengisi jajaran petinggi DC, BEM, Baksos, dan Ligmed juga, yang membuat kita hampir selalu datang bersama untuk membantu satu sama lain.
Mereka adalah hadiah terbaik dari Allah untuk membantu saya tetap hidup dan bahagia di FKUI. Terimakasih kalian, yang menerima Nada menjadi teman kalian, yang rela mendengarkan maupun berbagi cerita satu sama lain, yang bersedia untuk saling membantu dan menyemangati di berbagai kondisi, dan yang selalu memunculkan tawa.
Semester ini, mungkin akan menjadi semester preklinik terakhir yang akan kita lewati bersama dengan cara yang sama: tetap berada di satu kelas besar dan menginap H-1 untuk belajar. (Meskipun berbeda untuk Tascit yang memiliki jalan yang lebih luar biasa). Sayang sekali, di semester depan nanti Nada (Lala, Tatang, dan Tascit) harus izin tinggal di Depok lebih lama untuk menyelesaikan apa yang harus kami selesaikan. Sayang sekali, mungkin kami tidak bisa memakai toga di waktu yang sama dengan kalian.
Di semester depan juga, mungkin akan terjadi perubahan di hidup kita, karena kelas elektif yang mungkin berbeda, atau kelompok rotasi yang juga berbeda bahkan letak rumah sakitnya. Semoga kita tetap bisa bersama-sama dengan cara kita, dan tetap membantu satu sama lain meskipun perbedaan bisa memisahkan kita sebegitu jauhnya.
Terimakasih, sudah menjadi diri kalian yang begitu baik dan hebat. Terimakasih sudah menjadi orang-orang yang selalu ada. Mohon dimaafkan segala kesalahan Nada, apabila selama kita bersama banyak membuat luka. Semoga kita selalu dikuatkan pundaknya untuk terus berjalan di jalan panjang yang mulia ini. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Semoga kita tidak hanya jadi petinggi di saat mahasiswa ya, bisa menjadi petinggi juga di bidang masing-masing yang kita impikan nanti. 😋
Terimakasih Astrid, Dina, Esti, Fona, Ghina, Lala, Tascit, Nina, Nire, Beem, Tatang. I love you guys, always.
Jadilah di awal semester perkuliahan, saya mencoba dekat dengan semua orang. Ikut kesana, ikut kesini. Paling sering ya ketemu sama Nina, Lala--yang dulu selalu sekelas, dan Esti--teman pertama pas gathering dan tetangga sebelah kosan.
Hingga di suatu titik, saya benar-benar merasa menemukan orang baik yang menolong dan menemukan satu sisi di diri saya yang tidak banyak diketahui orang lain di saat itu. Adalah Ghina, seseorang yang tiba-tiba menelepon saya untuk mengajak berangkat bersama ke gymnasium untuk MPKO di saat hujan deras, di kondisi yang bahkan saya lupa kalau saya minta diajak berangkat bersama. Karena di saat itu pula, ada orang yang benar-benar saya ingat saya ajak berangkat bersama, tampaknya lupa dan tidak menghubungi saya sama sekali. Di suatu waktu yang lain, adalah Astrid, (bersama Ghina) yang habis balik dari perpusat kemudian ketemu saya dan Nina, mengajak kami ke coffee shop, dan menyadari kalau kita orangnya se-kuy itu. Satu titik yang mengantarkan saya, Ghina, Lala, Beem ke jalan-jalan di Bogor, menginap di rumah Astrid dan bercerita tentang segalanya.
Berlanjut kepada pertemuan saya dengan orang-orang baik lainnya, yang akhirnya dipertemukan di satu grup LINE. Ada Beem, seseorang yang pernah duduk di samping saya saat mabim dan tiba-tiba kita sudah bercerita tentang kehidupan, sesuatu yang saat itu sangat jarang saya lakukan. Ada Fona, yang ketika sehabis rapat kastrat pertama kita makan malam dan bercerita tentang kehidupan, saya merasa.. Wow? Sudah lama saya tidak bercerita sedalam ini. Ada Tannia, yang pernah sekelas english sehari dan saya sudah takjub akan kepintarannya, satu kelas praktikum IBD, dan juga seseorang yang selalu seru kalau bercerita. Ada Nire, geng cijantung yang punya banyak teman mutual dengan saya, yang topik pembicaraannya selalu kocak dan luar biasa. Ada Dina, teman satu kelompok mabim yang dulu tidak begitu dekat (karena kelompoknya memang ga dekat haha), yang sering orang bilang galak, tapi yang saya lihat kalau sudah dekat sama Dina pasti orangnya sweet dan seru dan keren. Ada tascit, yang nggak tau kenapa waktu itu tiba-tiba aku ikut surprise tascit??? Mungkin memang sudah diarahkan sama Allah ya cit hehe. Orang yang baik banget juga, dan soft-hearted sekali. Tiga orang yang sudah disebut sebelumnya, Ghina yang sangat heboh dan ketawanya selalu membuat saya ikut bahagia, Astrid yang pemikirannya sangat bagus dan sangat humoris banget juga, dan Esti my ESFJ twins (ga deng, sama-sama ESFJ tapi beda bgt) yang kyuti dan peduli sekali, yang sejak jaman padus kosannya menjadi tempat singgahku ðŸ˜. Juga Nina, teman sejak SD yang sangat baik untuk orang lain dan sangat multitalenta, serta Lala yang sangat aktivis, kocak, dan memiliki jalan hidup yang paling sama dengan saya.
Tahun ini, tahun kedua sejak kita ber-12 dipersatukan. Bersama mereka, saya merasakan menginap sejak jamannya bertumpuk di kamar Esti seorang hingga ada kamar Ghina dan Astrid. Saya merasakan nikmatnya sahur, berbuka puasa, dan tarawih bersama mereka, selagi jauh dari orangtua. Makan dan belajar bersama tentu sudah menjadi agenda wajib kita bersama. Menjalani pahit manisnya kehidupan kedokteran ini bersama. Mengisi jajaran petinggi DC, BEM, Baksos, dan Ligmed juga, yang membuat kita hampir selalu datang bersama untuk membantu satu sama lain.
Mereka adalah hadiah terbaik dari Allah untuk membantu saya tetap hidup dan bahagia di FKUI. Terimakasih kalian, yang menerima Nada menjadi teman kalian, yang rela mendengarkan maupun berbagi cerita satu sama lain, yang bersedia untuk saling membantu dan menyemangati di berbagai kondisi, dan yang selalu memunculkan tawa.
Semester ini, mungkin akan menjadi semester preklinik terakhir yang akan kita lewati bersama dengan cara yang sama: tetap berada di satu kelas besar dan menginap H-1 untuk belajar. (Meskipun berbeda untuk Tascit yang memiliki jalan yang lebih luar biasa). Sayang sekali, di semester depan nanti Nada (Lala, Tatang, dan Tascit) harus izin tinggal di Depok lebih lama untuk menyelesaikan apa yang harus kami selesaikan. Sayang sekali, mungkin kami tidak bisa memakai toga di waktu yang sama dengan kalian.
Di semester depan juga, mungkin akan terjadi perubahan di hidup kita, karena kelas elektif yang mungkin berbeda, atau kelompok rotasi yang juga berbeda bahkan letak rumah sakitnya. Semoga kita tetap bisa bersama-sama dengan cara kita, dan tetap membantu satu sama lain meskipun perbedaan bisa memisahkan kita sebegitu jauhnya.
Terimakasih, sudah menjadi diri kalian yang begitu baik dan hebat. Terimakasih sudah menjadi orang-orang yang selalu ada. Mohon dimaafkan segala kesalahan Nada, apabila selama kita bersama banyak membuat luka. Semoga kita selalu dikuatkan pundaknya untuk terus berjalan di jalan panjang yang mulia ini. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Semoga kita tidak hanya jadi petinggi di saat mahasiswa ya, bisa menjadi petinggi juga di bidang masing-masing yang kita impikan nanti. 😋
Terimakasih Astrid, Dina, Esti, Fona, Ghina, Lala, Tascit, Nina, Nire, Beem, Tatang. I love you guys, always.

Komentar
Posting Komentar