Ujian
integrasi tanggal 28 Mei lalu, resmi menandakan berakhirnya semester 6. Menandakan
bahwa sudah tiga tahun saya dan teman-teman 2016 menjejaki perjalanan ini. FKUI
beserta rutinitasnya yang berulang benar-benar membuat nyaman; terlalu nyaman sehingga
kita merasa selamanya akan selalu seperti ini. Kuliah, praktikum, diskusi
kelompok, LTM, pleno, KKD, formatif, sumatif, anatomi, integ, OSCE, sudah kerap
berlangsung pada siklusnya yang lama kelamaan membuat kita menjadi mati rasa.
Hingga
pada saatnya waktu ini datang di depan mata, kita sadar bahwa semuanya mungkin
tak lagi sama. Terlalu nyaman, sehingga terkadang kita lupa harus menjadi diri
yang mampu berdiri di kaki sendiri, harus menjalani rutinitas baru yang penuh
dengan kejutan dan ketidakteraturan, dan juga harus menjalani kehidupan.
Kehidupan menjadi orang dewasa yang sebenar-benarnya..
Berbicara
tentang perjalanan di Depok, tentu tak lepas dari gedung putih RIK, sahabat
seperjuangan, serta sebuah rumah yang menjadi saksi akan perjalanan kami. Di
tempat inilah, kisah saya dan FKUY digoreskan. Sebuah rumah di Jl. Stasiun
Pondok Cina No. 46, yang erat dengan sebutan Kost Kasman. Rumah dengan parkiran
lapang yang terdapat pohon besar, bercat abu-abu di bagian luar dan kuning
gading di bagian dalam, dan memiliki dua wilayah berbeda, bertingkat dua dan tiga.
Kali
pertama saya menginjakkan kaki disana adalah ketika masih dalam masa paduan
suara ospek universitas, ditemani teriknya matahari Pondok Cina, saya, Nina,
Esti, dan Ulya pergi kesana untuk beristirahat. Siapa sangka, rumah ini dapat menjadi
rumah kedua saya di Depok selama tiga tahun kedepan, ketika bahkan saya tidak
kos disini secara administratif?! Memang ajaib.
Belajar
bersama pertama kali disini ketika sumatif pertama SGBM, dimana saat itu
metodenya kita (Nada, Ghina, Esti, Astrid) menerangkan materi secara
bergantian. Lucu kalau diingat, karena saat itu kita pun mendengarkan dan
menjelaskannya sembari terkantuk-kantuk. Baca sitasi masih sendiri-sendiri. Hingga
saat terakhir kami belajar disini kemarin, metodenya sudah berubah. Sudah
ber-12, dengan cara belajar sendiri terlebih dahulu kemudian membahas sitasi
hingga dini hari. Dua kali ujian OSCE pun, latihannya kami lakukan disini,
disamping berlatih dengan kelompok kami masing-masing. Mengutip kata dr. Titin,
memang proses belajar disini sungguh sangat dinamis, dalam sekali percobaan
belum tentu kita dapat menemukan metode belajar yang cocok.
Berawal
dari kamar F-nya Esti, tempat kita belajar, menonton segalanya (badminton,
cinta dan rahasia, masterchef), main tebak lagu (ingat ngga ghin, ti, cit,
beem?), tidur saat malam hari ataupun di jam yang memungkinkan untuk pulang,
mulai dari tidur berempat hingga bersebelas pun kita lalui di kamar ini,
sebelum Ghina dan Astrid pindah kesini.
Later
on, Esti pindah ke kamar B, ada Ghina yang jadi penghuni kamar V gedung baru,
dan Astrid yang jadi penghuni kamar V gedung lama. Meja di ruang tengah yang
awalnya masih kokoh juga merapuh seiring berjalannya waktu, di akhir tahun
ketiga ini satu kakinya sudah lepas dari pijakannya sehingga sudah tidak
berfungsi dengan semestinya..
Di
tempat ini, saya melewati tiga kali bulan Ramadhan selama kuliah. Cari takjil,
buka puasa, tarawih, sahur dalam keadaan somnolen, semuanya kami lakukan
bersama. Ada suatu momen ketika saya, Esti, dan Ghina mengide ingin sahur
dengan makanan non-warteg (karena most of the time, warteg is our life) dengan
cara memesan McD pada malam harinya. Turns out, kita semua terbangun habis
subuh, kelewat waktu sahur, dan menjalani satu hari puasa tanpa sahur. Hanya
bisa meratapi indahnya ayam McD yang masih terbungkus rapi di kardusnya.
Akhirnya ayam-ayam tersebut kami goreng kembali untuk dimakan saat buka puasa.
Di
tempat ini, banyak kejutan ulang tahun yang kami berikan. Pertama kali, ketika
kita semua masih sangat niat, terjaga hingga pukul 00.00 untuk ulang tahun
Ghina, 13 Februari 2017, dengan lilin-lilin di kamar F-nya Esti, dan mungkin
kali pertama juga kita menginap disini dalam kondisi ramai. Hingga surprise
terakhir disini, saat ulang tahun Esti, 13 Oktober 2018.
Level
persaudaraan kami bahkan sudah mencapai pinjam kamar, meskipun orangnya sedang
tidak ada di kamarnya. Kalimat seperti ini sudah sering sekali kami lantunkan:
“Ti/Ghin/Cit nanti kamu di kasman nggak?” Lalu dijawab dengan baiknya: “Nggak,
tapi bawa aja kuncinya”. Huhu terimakasih teman-temanku yang sangat baik
hatinya, menolong kami para musafir tempat tinggal.
Berbicara
tentang kosan, tentunya tidak terlepas dari penjaganya. Dan siapakah malaikat
yang Allah turunkan untuk menjadi penjaga kos, pengurus kos, yang menyelamatkan
hidup kami semua? Beliau adalah Pak Kasman sebagai penjaganya, terkadang
bersama anaknya, dan Bibi yang menjadi asisten di dalam rumah. Mereka bagaikan
malaikat yang diutus oleh Allah untuk menolong kami para mahasiswa yang
membutuhkan pertolongan. Betapa baiknya mereka memperbolehkan kami menginap
ber12, minimal tiga kali dalam sebulan, menumpang mandi, menyetrika, mengganggu
penghuni aslinya:’). Sungguh, saya berhutang budi sekali dengan mereka-mereka
ini. Benar-benar menyelamatkan hidup saya.
Barangkali,
tanggal 28 Mei kemarin menjadi kali terakhir saya berada di Kasman untuk
belajar bersama FKUY. Istimewanya, pada malam sebelumnya kami tak hanya belajar
untuk ujian, tetapi juga bercerita kesana kemari tentang GOT, budaya bataknya
Tatang, Acit, Dina, serta berbagai kisah ajaib dari keluarga mereka.
Sungguh,
sedih sekali harus meninggalkan hangatnya suasana ketika berkumpul, kebaikan
hati Pak Kasman dan Bibi, indahnya ayam penyet Parahyangan, Bakso Pocin, Pempek
Kotaku, Ice Cream Pocin, Chocolate Changer, sate padang-soto ayam samping
Detos, warteg ibu depan, warteg gang, dan berbagai jajanan Pondok Cina.
Sungguh,
begitu berat membayangkan ketika saya membuka mata di suatu hari nanti, semua
sudah tak lagi sama. Ketika semesta sudah bertitah, bahwa detak jarum kehidupan
kita, akan mulai bergerak dalam irama yang berlainan. Agaknya terasa
semena-mena membayangkan apakah ada rumah seperti Kasman yang rela menampung
kita ber-12, bila waktu hidup kita saja sudah tak lagi mampu menempati ruang
yang sama.
Namun
insyaAllah, sebagaimanapun semesta mencoba menjauhkan kita, seberbeda apapun
detak jarum kehidupan kita, rasa persaudaraan di hati kita tetap tertaut,
sehingga kita akan selalu menemukan cara untuk kembali bersama. Jangan ragu
untuk meminta bantuan apabila membutuhkan, jangan berhenti untuk menghibur dan
mencari penghiburan, semoga kita bisa tetap saling berbagi informasi mengenai
apapun, dan masih memiliki kreativitas untuk saling memberi kejutan di ulang
tahun masing-masing.
Lagi-lagi,
tak henti-hentinya, saya benar-benar berterimakasih untuk Esti, Ghina, Astrid,
Fona, Tannia, Nina, Lala, Beem, Dina, Nire, dan Tascit, untuk tiga tahun yang
menakjubkan. Terimakasih sudah saling pengertian, saling mengulurkan tangan
disaat ada yang meminta bantuan, menjadi tempat berpulang di segala suasana,
ketika disinari rasa bahagia maupun dirundung duka, meluangkan waktu untuk
mendengarkan segala cerita, dan menjadi pendengar, penghibur, dan pemberi
solusi dari setiap masalah. Terimakasih telah menjadi diri kalian yang begitu
baik. Mari kita saling memaafkan atas segala kesalahan, memulai lembar baru
disaat setiap pertemuan menjadi begitu langka sehingga harus selalu dimaknai
setiap detiknya. Semoga kita semua selalu diliputi kebaikan dan kebahagiaan
yang berlimpah. Saya menyayangi kalian, setulus-tulusnya.
Selamat
tinggal, Depok dengan segala kenangan. Semoga dengan berpindahnya kita ke
Salemba juga meningkatkan kemampuan kita untuk menjadi orang yang lebih baik
lagi. Semoga Tuhan selalu menyertai perjalanan, melancarkan, dan menguatkan
diri kita dalam menjalani berbagai hal yang lebih menantang di depan; semester
7, koas, UKMPPD, PLD, internsip. Hingga pada akhirnya.. menjadi dokter yang
baik, hebat, dan bermanfaat bagi alam semesta. InsyaAllah.
P.s. Ini foto kita tanggal 20 Mei. Buka puasa bersama di Sakana Midplaza, sekaligus farewell Fona yang akan pergi ke Leiden.

Komentar
Posting Komentar