// 2005.
Usiaku 7 tahun kala itu, ketika mendengar berita bahwa Umi hamil dan aku akan segera punya adik lagi! Well, aku memang sudah memiliki dua adik, tapi jarak kami yang terlampau dekat, yakni 1 tahun dan 3 tahun, membuat kami merasa seperti teman sebaya, dan tidak memungkinkanku untuk menggendong mereka. Terkadang aku ingin juga menggendong adik kecil seperti apa yang teman-temanku miliki. Akhirnya Allah kabulkan doaku di saat ini. Aku sangat excited menanti kedatangannya.
// 2006.
Di awal tahun, memori yang tersisa di ingatanku kala itu adalah Umi yang demam dan muntah-muntah hebat, padahal adikku belum keluar. Aku dan kedua adikku hanya bisa membantu mendoakan dan membantu Abi apabila dibutuhkan.
Beberapa hari sebelum tanggal kelahiran, Umi harus dirawat di klinik tempatnya biasa melakukan konsultasi kehamilan. Namun, menurut sang bidan, denyut jantung janin melemah, jadi Umi dibawa ke sebuah rumah sakit swasta. Disana, ternyata Umi harus menjalani operasi sectio caesarea untuk melahirkan adik. 14 Februari 2006, adik ketigaku lahir ke dunia, dengan nama Zahra Karima.Di awal tahun, memori yang tersisa di ingatanku kala itu adalah Umi yang demam dan muntah-muntah hebat, padahal adikku belum keluar. Aku dan kedua adikku hanya bisa membantu mendoakan dan membantu Abi apabila dibutuhkan.
2 minggu setelah Zahra dibawa pulang ke rumah, Ia mengalami batuk tak berhenti. Orangtuaku tidak begitu hafal perjalanan penyakitnya, sempat didiagnosis penyakit paru (mungkin pneumonia), dan berbagai penyakit lainnya, hingga sampailah pada diagnosis kerjanya yaitu atrium septal defect, sebuah kondisi dimana jantungnya hanya memiliki 1 atrium karena sekat pemisah atrium kiri dan kanan tidak terbentuk dengan baik (normalnya, manusia memiliki dua ruang atrium yang dipisahkan oleh sekat), sehingga darah yang mengandung karbondioksida di atrium kanan bercampur dengan darah yang mengandung oksigen di atrium kiri.
Satu tahun pertama adalah masa-masa yang cukup berat bagi keluarga kami, terutama kedua orangtua dan Zahra sendiri. Berkali-kali kedua orangtua saya harus membawa Zahra bolak-balik ke RSAB Harapan Kita. Saya dan kedua adik ditinggal di rumah, terkadang ditemani eyang, tante, atau om. Secara total, Zahra menjalani tiga kali operasi, yang biayanya juga tidak sedikit, mencapai ratusan juta. Terlebih, saat itu kedua orangtua saya masih dalam proses membangun karir, sehingga kondisi ekonomi keluarga kami pun masih belum settled. Perjuangan orangtua saya benar-benar tak terhitung, mencari bantuan kesana kemari, hingga pernah saya lihat iklannya di koran dan majalah, alhamdulillah banyak orang-orang baik yang rela membantu proses terapi Zahra.
Baru ketika kami bertiga mulai dewasa, Umi bercerita kalau di awal-awal proses perjalanan ini beliau selalu menangis, terutama saat melihat keadaan Zahra yang dipasangkan berbagai alat medis, disuntik sana-sini, memikirkan biaya rumah sakit dan segalanya. Namun, Ia pernah diingatkan oleh salah satu suster, bahwa seorang ibu harus kuat, supaya anaknya juga kuat dalam menjalani proses pengobatan. Sejak saat itu, Ibu saya selalu berusaha setegar mungkin, berusaha sekuat tenaganya, dan memasrahkan segalanya pada Allah.
Umi juga bercerita kepada kami bahwa setiap Zahra selesai operasi, Zahra selalu menunjukkan senyum terbaiknya. Seakan menenangkan Umi bahwa dirinya baik-baik saja…
// 2007
Setelah menginjak usia 1 tahun, kondisi Zahra mulai menunjukkan perbaikan yang pesat. Ia sudah tidak sering mengalami sesak, kemampuan kognitif dan motoriknya juga berkembang dengan baik. Ia mulai bisa memanggil Umi, Abi, dan Ata (Nada), hihi senangnya. Di rumah, ada satu tembok yang dipasangkan poster asmaul husna, setiap melewati poster tersebut, Zahra selalu minta berhenti dan disenandungkan asmaul husna oleh Umi. Lagu kesukaannya yang lain adalah Do’aku - Haddad Alwi. Mendekati usia 2 tahun, Ia semakin senang menonton film seperti film kartun islami (lupa nama judulnya :’)), teletubbies, tweenies.. Ia selalu ikut tertawa ketika tokohnya tertawa.
Ketika ada buku disampingnya, Ia selalu menunjuk nunjuk seakan minta diceritakan isi bukunya. Jika ada koran disampingnya, Ia juga bisa menyilangkan kaki dan meletakkan koran diatasnya. Bahkan, kami pernah mencoba menaikkannya ke odong-odong yang lewat, ternyata dia juga sangat senang dan menangis ketika diturunkan.
Hal yang paling mengejutkan darinya dan akan selalu kami ingat selamanya adalah ketika kami bertanya “Zahra, cita-citanya apa?” Dia akan menunjuk entah oksigen, nebulizer, atau kotak obat-obatannya. Lalu kami tanya kembali, “mau jadi dokter?”. Dia akan mengangguk dengan yakinnya. Lalu kami lanjutkan, “mau jadi dokter apa?”. Dia akan menjawab dengan menunjuk daerah jantungnya, yang membuat kami bertanya “Zahra mau jadi dokter jantung?”, lalu akan dijawabnya dengan anggukan yang sangat yakin dan senyuman yang manis. Pertanyaan ini sering kami ulang-ulang, dan jawabannya pun tetap konsisten seperti ini. Pintar sekali ya dia. Bahkan aku selalu yakin dia akan menjadi anak yang kuat, sabar, sangat cerdas, dan bisa menjadi dokter seperti impiannya.
Ketika ada buku disampingnya, Ia selalu menunjuk nunjuk seakan minta diceritakan isi bukunya. Jika ada koran disampingnya, Ia juga bisa menyilangkan kaki dan meletakkan koran diatasnya. Bahkan, kami pernah mencoba menaikkannya ke odong-odong yang lewat, ternyata dia juga sangat senang dan menangis ketika diturunkan.
Hal yang paling mengejutkan darinya dan akan selalu kami ingat selamanya adalah ketika kami bertanya “Zahra, cita-citanya apa?” Dia akan menunjuk entah oksigen, nebulizer, atau kotak obat-obatannya. Lalu kami tanya kembali, “mau jadi dokter?”. Dia akan mengangguk dengan yakinnya. Lalu kami lanjutkan, “mau jadi dokter apa?”. Dia akan menjawab dengan menunjuk daerah jantungnya, yang membuat kami bertanya “Zahra mau jadi dokter jantung?”, lalu akan dijawabnya dengan anggukan yang sangat yakin dan senyuman yang manis. Pertanyaan ini sering kami ulang-ulang, dan jawabannya pun tetap konsisten seperti ini. Pintar sekali ya dia. Bahkan aku selalu yakin dia akan menjadi anak yang kuat, sabar, sangat cerdas, dan bisa menjadi dokter seperti impiannya.
// 2008
Segalanya masih berjalan dengan sangat baik. Saat memasuki bulan Februari, bulan kelahiran Zahra, aku iseng bertanya ke Abi, “Bi, ulang tahun Zahra yang ke-2 nanti mau dikasih kado atau acara apa?” Karena tanggal 14 Februari jatuh di hari Kamis, spontan Abi menjawab, “Iya nanti kita mengaji bersama sekeluarga besar ya hari Sabtu.”. Tidak ada yang aneh, bukan? Karena mengaji bersama keluarga besar tiap hari Sabtu malam memang sudah menjadi kebiasaan kami.
Tetapi, hari itu datang. Rabu, 13 Februari 2008, satu hari sebelum ulang tahun Zahra. Pagi itu aku, ketiga adik, dan Ayah sedang bersiap-siap untuk pergi sekolah dan bekerja. Kondisi Zahra saat itu sedang rewel. Kami bergantian menghiburnya, namun Ia tetap saja merasa gelisah. Hingga ketika aku melontarkan pertanyaan, “Zahra, mau jadi dokter jantung kan?”, pertama kalinya, dia menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Tidak ada firasat buruk yang melintas. Ketika di sekolah, saya pun masih bertukar pendapat ke teman sebangku, terkait hadiah apa yang akan saya berikan untuk Zahra. Namun di siang hari… ketika (alm.) guru saya, Pak Budi, sedang mengajukan pertanyaan “Apa alat yang ditemukan oleh Alexander Graham Bell?”, terdengar suara pintu diketuk, dan muncul sosok om saya di depan sana. Seumur-umur, saya belum pernah dijemput untuk pulang sekolah, karena lokasi sekolah saya yang dekat dengan rumah. Jadi, ketika ada om saya di depan sana, tentunya ada kondisi buruk yang terjadi. Di sisi lain, eyang saya juga sedang dalam kondisi sakit. Jadi, saya masih berpikir, apakah ini eyang? atau… Zahra? Om tidak menjawab pertanyaan saya akan kondisi yang terjadi. Hal yang pertama kali saya lihat di depan rumah adalah bendera kuning bertuliskan “Zahra Karima binti Andi Dwi Efendi.” Awalnya, saya masih denial. Karena saya tidak melihat sosok Umi, Abi, dan Zahra, saya tidak menangis sama sekali. Tetapi ketika saya bertemu tante yang paling dekat dengan Zahra, tangisan saya pecah di pelukannya.
Kemudian, jenazah Zahra pun sampai di rumah. Teman-teman dan keluarga mulai berdatangan. Duka kembali menyelimuti rumah kami. Tangisanku kembali pecah ketika Eyang berbicara “InsyaAllah kamu sudah ngga sakit lagi ya Nak.. InsyaAllah ulang tahunnya di surga…”.
Dan pada hari Sabtu, ternyata ucapan Abi benar adanya, kami mengadakan pengajian, meskipun qadarullah, pengajiannya tidak hanya keluarga besar, tetapi juga tetangga dan teman-teman, dan bukan untuk ulang tahun, melainkan tahlilan untuk mendoakan kepergian Zahra..
Later on, kami sekeluarga diberi mimpi bertemu Zahra, benar-benar dalam kondisi yang sehat dan bahagia, bahkan sudah bisa berlari… Kami sudah ikhlas dan yakin bahwa Allah tidak ingin membiarkan Zahra mengalami sakit lebih lama, tidak ingin membiarkan Zahra terkena dosa di dunia, dan memberikan jalan penolong ke surga-Nya...
Tetapi, hari itu datang. Rabu, 13 Februari 2008, satu hari sebelum ulang tahun Zahra. Pagi itu aku, ketiga adik, dan Ayah sedang bersiap-siap untuk pergi sekolah dan bekerja. Kondisi Zahra saat itu sedang rewel. Kami bergantian menghiburnya, namun Ia tetap saja merasa gelisah. Hingga ketika aku melontarkan pertanyaan, “Zahra, mau jadi dokter jantung kan?”, pertama kalinya, dia menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Tidak ada firasat buruk yang melintas. Ketika di sekolah, saya pun masih bertukar pendapat ke teman sebangku, terkait hadiah apa yang akan saya berikan untuk Zahra. Namun di siang hari… ketika (alm.) guru saya, Pak Budi, sedang mengajukan pertanyaan “Apa alat yang ditemukan oleh Alexander Graham Bell?”, terdengar suara pintu diketuk, dan muncul sosok om saya di depan sana. Seumur-umur, saya belum pernah dijemput untuk pulang sekolah, karena lokasi sekolah saya yang dekat dengan rumah. Jadi, ketika ada om saya di depan sana, tentunya ada kondisi buruk yang terjadi. Di sisi lain, eyang saya juga sedang dalam kondisi sakit. Jadi, saya masih berpikir, apakah ini eyang? atau… Zahra? Om tidak menjawab pertanyaan saya akan kondisi yang terjadi. Hal yang pertama kali saya lihat di depan rumah adalah bendera kuning bertuliskan “Zahra Karima binti Andi Dwi Efendi.” Awalnya, saya masih denial. Karena saya tidak melihat sosok Umi, Abi, dan Zahra, saya tidak menangis sama sekali. Tetapi ketika saya bertemu tante yang paling dekat dengan Zahra, tangisan saya pecah di pelukannya.
Kemudian, jenazah Zahra pun sampai di rumah. Teman-teman dan keluarga mulai berdatangan. Duka kembali menyelimuti rumah kami. Tangisanku kembali pecah ketika Eyang berbicara “InsyaAllah kamu sudah ngga sakit lagi ya Nak.. InsyaAllah ulang tahunnya di surga…”.
Dan pada hari Sabtu, ternyata ucapan Abi benar adanya, kami mengadakan pengajian, meskipun qadarullah, pengajiannya tidak hanya keluarga besar, tetapi juga tetangga dan teman-teman, dan bukan untuk ulang tahun, melainkan tahlilan untuk mendoakan kepergian Zahra..
Later on, kami sekeluarga diberi mimpi bertemu Zahra, benar-benar dalam kondisi yang sehat dan bahagia, bahkan sudah bisa berlari… Kami sudah ikhlas dan yakin bahwa Allah tidak ingin membiarkan Zahra mengalami sakit lebih lama, tidak ingin membiarkan Zahra terkena dosa di dunia, dan memberikan jalan penolong ke surga-Nya...
// 2020
12 tahun sudah berlalu semenjak kepergiannya. Beberapa kali, saya membayangkan, ‘gimana ya rasanya, ketika di surga nanti, keluarga ini jadi berenam! Kalau Zahra masih ada saat ini, harusnya usianya 12 tahun, kelas 3 SMP. Kira-kira sekolah dimana ya? Apakah cita-citanya sama masih ingin menjadi dokter? Hehe.
Sedikit cerita, Nada di usia 9 tahun ketika sedang berkunjung ke RSAB Harapan Kita untuk bertemu orangtuanya (dan hopefully, adiknya) sangat ingin menjadi orang berusia 13 tahun supaya diperbolehkan masuk ruang rawat adiknya, karena batas minimal umur untuk masuk ke ruang rawat adalah 13 tahun. Dulu, saya dan kedua adik hanya boleh datang sampai lobby, bermain di ruang tunggu.
Ternyata, diam-diam, ada doa seorang Ibu supaya anaknya ini bisa datang kembali ke RS Harapan Kita, bukan untuk mengunjungi keluarga yang sakit, tapi menjadi penolong anak-anak yang memiliki nasib sama dengan almarhum adiknya. Do’a yang mungkin diaminkan oleh para malaikat dan tembus ke langit, sehingga bisa mengantarkan Nada usia 21 tahun bisa menginjakkan kaki kembali di RS Harapan Kita, di akhir tahun 2019, dalam rangka proses perjalanan pendidikan kedokterannya. Bahkan sekarang sudah bertemu dr. Piprim dan dr. Eka, yang dulu juga membantu pengobatannya Zahra. :)
Sedikit cerita, Nada di usia 9 tahun ketika sedang berkunjung ke RSAB Harapan Kita untuk bertemu orangtuanya (dan hopefully, adiknya) sangat ingin menjadi orang berusia 13 tahun supaya diperbolehkan masuk ruang rawat adiknya, karena batas minimal umur untuk masuk ke ruang rawat adalah 13 tahun. Dulu, saya dan kedua adik hanya boleh datang sampai lobby, bermain di ruang tunggu.
Ternyata, diam-diam, ada doa seorang Ibu supaya anaknya ini bisa datang kembali ke RS Harapan Kita, bukan untuk mengunjungi keluarga yang sakit, tapi menjadi penolong anak-anak yang memiliki nasib sama dengan almarhum adiknya. Do’a yang mungkin diaminkan oleh para malaikat dan tembus ke langit, sehingga bisa mengantarkan Nada usia 21 tahun bisa menginjakkan kaki kembali di RS Harapan Kita, di akhir tahun 2019, dalam rangka proses perjalanan pendidikan kedokterannya. Bahkan sekarang sudah bertemu dr. Piprim dan dr. Eka, yang dulu juga membantu pengobatannya Zahra. :)
Mohon doanya, teman-teman, semoga Nada bisa menjalani pendidikan ini dengan baik, supaya benar-benar bisa menjadi penolong mereka yang membutuhkan.
Dibalik segala naik turun yang terjadi selama periode tersebut, keluarga kami ikhlas dan berusaha mengambil hikmah dari segala kejadian. Barangkali, kondisi itu yang menguatkan keluarga kami, meningkatkan kesabaran kami, mengingatkan betapa berharganya nikmat sehat, memperkenalkan kami kepada banyak orang-orang baik, dan mengingatkan bahwa Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hamba-Nya… Semoga kami sekeluarga bisa berkumpul kembali di surga-Nya :)
Dibalik segala naik turun yang terjadi selama periode tersebut, keluarga kami ikhlas dan berusaha mengambil hikmah dari segala kejadian. Barangkali, kondisi itu yang menguatkan keluarga kami, meningkatkan kesabaran kami, mengingatkan betapa berharganya nikmat sehat, memperkenalkan kami kepada banyak orang-orang baik, dan mengingatkan bahwa Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hamba-Nya… Semoga kami sekeluarga bisa berkumpul kembali di surga-Nya :)
Foto Zahra saat berusaha mengambil koran yang ingin Ia 'baca':
Komentar
Posting Komentar