Barangkali, saya belum pernah tumbuh untuk menjadi pemimpi. Sejak kecil, orangtua saya tidak pernah menuntut apapun untuk saya lakukan. Mereka hanya berharap dan mengajarkan saya menjalin hubungan yang baik dengan Allah SWT juga dengan sesama manusia. Berbagai kondisi yang ada saat itu juga mendukung saya menjadi manusia yang hanya berjalan di satu lintasan, istilahnya menjalankan kewajiban saja. Ibaratnya, kalau teman-teman yang lain ikut les gambar, les musik, saya ngga. Mungkin dulu saya juga ngga tertarik, tapi kalau dipikir-pikir, skill seperti itu berguna juga. Hal yang sama juga berlaku ketika saya mengikuti lomba, orangtua ngga pernah menuntut untuk menang, katanya yang penting sudah mencoba. Tapi, jadinya saya merasa ngga memiliki jiwa kompetitif, meskipun pada saat itu bahagia-bahagia aja karena ngga punya tuntutan dan bisa main sepuasnya, hahaha.
Saat menuju kelulusan SD dan kelulusan SMP pun, target saya kala itu adalah memiliki NEM yang tinggi supaya bisa masuk SMP dan SMA negeri di dekat rumah (yang alhamdulillahnya juga memiliki akreditasi yang bagus). Namun, tantangan muncul ketika sudah mendekati akhir SMA, saat saya harus menentukan jurusan apa yang akan diambil ketika kuliah nanti.
Kalau ditanya cita-citanya apa, semua anggota keluarga besar bilang kalau waktu kecil saya selalu ingin jadi dokter. Terlebih, ketika Zahra telah berpulang. Tapi, saya ingat pernah mencetuskan ingin menjadi astronot karena sedang suka bermain game tentang tata surya dan pernah menyebutkan ingin menjadi pelukis karena saya ditanya ketika sedang memegang kuas.
Ketika SMP, tekad saya menjadi dokter masih sangat besar, terbukti dari testimoni teman-teman SMP saya yang rata-rata mensyukuri terwujudnya cita-cita saya sejak kecil. Namun, di SMA kelas 10 dan 11 saya mendapatkan guru biologi yang cara mengajarnya tidak pas dengan saya. Biologi hanya menjadi sekadar hafalan kala itu, kami dituntut untuk respon otak--jadi beliau menyebutkan sebuah materi secara acak, dan menunjuk murid secara acak untuk mempresentasikannya di depan kelas. Jika muridnya tidak bisa, harus dibayar dengan bernyanyi. Jadilah, segala yang dipelajari sangat acak. Padahal di kelas 11 pusatnya sistem tubuh kan, ya jadi lewat aja tuh ceu materi, isinya kita disuruh buat lagu tentang tulang dan nonton film yang katanya harus memuat suatu sistem tubuh (lalu beliaunya keluar kelas). Sebaliknya, saya justru mendapatkan guru matematika yang sangat baik dan cara mengajarnya mudah saya pahami. Akhirnya saya memutuskan untuk berpindah haluan, menjadi seorang pencinta matematika. Tekad saya menjadi dokter sudah luntur, berganti dengan akuntan atau statistisian. Ternyata, di kelas 12 saya dihadapkan dengan sebuah fakta bahwa jurusan Statistika UI belum dapat didaftarkan melalui jalur undangan, dan saingan terbesar saya untuk mendaftar Akuntansi UI adalah ranking 1 di jurusan IPS. Sedangkan apabila memilih FKUI, saya diuntungkan karena menjadi peringkat 1 di angkatan. Terlebih, di kelas 12 juga saya bertemu dengan seorang guru biologi lulusan S2 Biomedis FKUI, yang cara mengajarnya sangat pas dengan saya.
Entah mengapa, orangtua saya yang sejak kelas 11 mendukung saya memilih akuntansi atau statistika, tiba-tiba menawarkan pilihan bagaimana jika saya mendaftar FKUI saja. Disinilah titik yang menurut saya perlu diperbaiki. Sejujurnya, saya masih belum yakin untuk mendaftar ke FKUI, karena saya tahu.. sekolahnya lama. Saya sebagai anak pertama merasa punya tanggung jawab untuk bekerja secepatnya demi membahagiakan orangtua. Tapi.. orangtua saya seakan lebih bahagia kalau saya mendaftar FKUI. Akhirnya, satu-satunya hal yang membuat saya yakin untuk mendaftar FKUI adalah mimpi pasca shalat istikharah. Semoga iman saya selalu dikuatkan supaya tetap percaya kalau mimpi itu adalah sebenar-benarnya petunjuk.
Hingga saat ini saya menjadi mahasiswa klinik, saya merasa seharusnya bisa berpikir ulang, atau setidaknya mencari pegangan dan ilmu lain sebelum mendaftar ke FKUI. Seperti misalnya, belajar Sherwood, gitu. Di awal perkuliahan, saya merasa seperti anak dengan ilmu biologi yang kosong, duduk di bangku kuliah FKUI. Sedangkan teman-teman saya banyak yang sudah ahli di bidang ini. Banyak dari mereka yang punya mimpi disini. Jujur, saya merasa sangat minder ketika menjalani semester pertama. Melewati mabim dengan datar, ngga memaknai ilmu yang diberikan. Padahal, kalau saya baca-baca buku saat mabim, ilmu untuk kehidupannya berlimpah ruah.
Nilai semester 1 saya yang payah, membuat saya semakin merasa tidak berdaya. Kembali mempertanyakan apakah saya benar-benar layak untuk berada disini. Sering sekali saya menangis ketika belajar atau mengerjakan tugas, sampai orangtua saya khawatir. Saya seperti kehilangan diri sendiri. Hingga akhirnya saya menguatkan diri, berpegang teguh dengan iman, dan mencoba untuk bertahan. Ternyata di semester 2, saya justru diberi kebahagiaan yang berarti, dipertemukan dengan orang-orang yang menyelamatkan saya hingga saat ini.
Sebuah titik jatuh yang kedua di semester dua, ternyata menjadi salah satu cara saya menemukan mimpi. Neurosains dengan beserta jarasnya membuat saya takjub dan dengan izin Allah mampu saya pahami. Sedangkan untuk modul kardiovaskular, yang selalu saya ucap dan tuliskan selama SD-SMP, masih belum dapat saya pahami. Meskipun di 2020 sudah lumayan, sih.
Mimpi saya lainnya adalah di bidang non akademik. Saya belum tahu ingin masuk apa dan ngga tahu cara kerjanya bagaimana. Akhirnya saya memilih BEM dan FSI. Di tahun pertama, saya sangat mensyukuri masuknya saya di Kastrat BESOK dan SK. Di tahun kedua, ketika masanya kontestasi dan regenerasi, saya mulai kebingungan. Orang lain mungkin memiliki mimpi untuk mengemban suatu jabatan. Namun, berbeda halnya dengan saya yang hanya ingin berkontribusi tanpa dibebankan sebuah jabatan. Jadilah, di masa ini, banyak hal yang dengan berat hati harus saya lewatkan. Saya baru mengetahui passion saya dalam bercerita dan bertemu dengan orang banyak ketika menjadi LO di Open House FKUI. Padahal, saya bisa memilih mendaftar menjadi mentor, dibanding harus menjalankan sebuah amanah yang kerap kali diwarnai dengan isak tangis. Tapi semuanya sudah terlambat… Meskipun begitu, saya tetap sangat bersyukur bisa menjalani kepengurusan dengan teman-teman di Kastrat Sohiebs dan SK!
Setelah beranjak dari kehidupan di Depok, saya merasa sudah waktunya untuk membenahi diri, menyusun rencana 5 hingga 10 tahun kedepan. Saya tidak ingin melewatkan hal-hal yang seharusnya bisa saya jalani dengan bahagia. Jika dulu saya belajar sangat keras untuk masuk SMP dan SMA impian saya, kali ini saya juga harus mempersiapkan dengan baik masa depan saya. Contohnya, seperti menentukan mau masuk spesialis apa, mau kemana sebelum dan sesudah lulus, mau menikah tahun berapa, punya anak berapa, kerja dimana.. Menakutkan ya menjadi dewasa, hehehe. Jujur, rasanya asing sekali menuliskan berbagai rencana dan cara mewujudkannya (yang terkadang menemui jalan buntu). Tapi mari kita mulai dengan bismillah, semoga Allah memudahkan jalannya.
Bagaimana dengan ekspektasi akan impian yang tidak terwujud? Ambang batas seseorang akan sebuah ekspektasi dan kesedihan yang muncul ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita tentu berbeda-beda, begitu juga dengan coping mechanism-nya. Tapi, kita saja bisa memiliki impian sedekat nilai bagus, mimpi-mimpi yang lebih jauh juga pasti bisa! Penyebab tidak terwujudnya suatu impian kan juga bisa beragam, seperti kita harus berusaha lebih keras lagi untuk meraihnya melalui jalan lain, atau memang sejatinya kita yang dihindarkan dari segala keburukan yang ada di impian itu, dan dipertemukan dengan impian yang lebih baik.
Selain menyusun rencana untuk kehidupan dunia, saya juga masih seringkali mengingatkan diri sendiri perihal menyusun rencana untuk kehidupan akhirat. Pemikiran ini didasari oleh pembicaraan bersama Fona, di suatu malam di Warung Upnormal. Saya masih sering lupa, masih sering terlena, berusaha demi mimpi dan rencana untuk segala hal yang hanya ada di dunia. Menyusun rencana untuk 5 dan 10 tahun kedepan; padahal saya sendiri tidak tahu sampai kapan saya bisa hidup di dunia. Bisa saja besok, atau bahkan setelah menulis tulisan ini. Jika terjadi, memangnya bekal apa yang sudah saya siapkan ketika menghadap-Nya? Seberapa yakin saya dengan amalan yang telah saya perbuat, seberapa ingat saya dengan dosa-dosa yang sengaja dan tak sengaja saya lakukan? Semoga bisa menjadi pengingat di kala saya sedang jauh, dan menjadi bahan renungan kita semua. Mohon maaf ya teman-teman atas segala kesalahan yang saya pernah perbuat. Semoga kita bisa saling mencari dan menarik ketika masuk surga nanti..
Komentar
Posting Komentar