Pulih.

 Hari ini, Jum’at 25 Desember, saya mendapat sebuah pengingat dari seorang sahabat. Pengingat yang tanpa disangka, bisa semakin memulihkan luka yang selama ini masih tersisa.

Bahwa sejatinya, rasa sakit hati, rasa marah, rasa sedih, adalah sebuah keniscayaan. Sebagai bentuk emosi yang tak dapat dipungkiri adanya.

Di luar sana, banyak hal yang bisa terjadi di luar kendali kita. Dan satu-satunya hal yang dapat kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita berpikir, bertutur, dan bertindak.

Begitu juga dengan munculnya sebuah rasa. Apakah segala rasa dan emosi yang ada akan tetap kita rawat seterusnya, atau kita dapat memilih untuk mengubur dan berpaling darinya.

Hanya diri kita sendiri yang dapat menilai, kapan kita harus memulai, atau memilih untuk usai. Berbekal pengalaman, kritik dan saran, serta petunjuk dari Tuhan.

Setelah sekian lama masih menyimpan pertanyaan: mengapa harus kami, apa yang terjadi, mengapa saya tak pernah mendapat penjelasan, mengapa niat baik saya tak disambut dengan kebaikan, serta ingatan bahwa saya pernah menjadi runtuh karena semua mimpi buruk saya menjadi nyata… Pada hari ini saya berikrar untuk mengakhiri segalanya.

Karena saya pada akhirnya bisa benar-benar meyakinkan diri sendiri, bahwa segalanya terjadi di luar kendali saya. Saya sudah letih, bosan, dan sudah merasa tenggelam di dalamnya. Dalam pusaran arus pertanyaan, perasaan, dan asumsi yang tiada ujungnya. Saya merasa harus mengambil keputusan, dan saya harus cepat pulih dari luka-luka yang tak perlu ada.

Biarkan kami kembali menjadi entitas yang berbeda, dalam jalan hidup kami masing-masing yang tak lagi saling terkait, lepas dari bayang-bayang lima tahun silam.

Saya pernah berdoa untuk ditunjukkan bagaimana saya harus mengambil keputusan, dan Allah telah memberikan jawaban dalam bentuk kenyataan. Maka saya harus menerima dengan hati yang luas dan ikhlas.

Biarlah kejadian dua tahun terakhir menjadi pelajaran hidup yang berharga untuk saya; dalam perjalanan membentuk diri saya menjadi versi yang sebaik-baiknya.

Sebagaimana yang tak mau diliputi bayang-bayang orang lain, saya juga tidak ingin bayangan dirinya menjadi penghambat dalam perjalanan saya meraih sesuatu yang lebih baik.

Biarlah ruang yang pernah ada ditutup rapat, dengan pintu yang tak bisa dibuka kembali. Lalu saya dapat membuka kembali ruang yang baru, mempersiapkan segala ornamennya, dalam menyambut siapapun yang akan datang nantinya.

Semoga Allah senantiasa ridhoi dan berkahi…

Komentar