Ketika sedang menjelajahi tab explore di Instagram, saya menemukan video Sada (anak dari Fitri Tropica), yang sedang bermain bersama kakeknya. Lucu sekali, pikir saya. Ingatan saya seketika berputar ke berbelas tahun lalu, ketika momen dan kebahagiaan yang sama juga saya miliki…
Eyang Akung, begitu saya memanggil beliau. Seorang bijak yang lembut hatinya, tegas sikapnya, lurus hidupnya, dan selalu berusaha mengutamakan kebaikan untuk lingkungan sekitarnya. Orang pertama yang berbinar merestui kehadiran Abi di keluarga, tidak memiliki keraguan karena kedatangan Abi membawa kebaikan. Binar yang sama, muncul ketika kelahiran cucu pertama hingga kesebelas cucunya.
Sebagai cucu pertama, tentu saya diberikan waktu yang lebih banyak untuk menikmati waktu bersamanya. Saya begitu mengingat bagaimana beliau selalu mengajak aku dan adikku berjalan-jalan di sore hari, atau berhenti di taman, membeli es krim setelah menemani beliau mengantar tante ke halte bus tiap pagi. Saya juga ingat fase ketika diantar jemput oleh beliau ketika masih bersekolah di tempat yang jauh dari rumah... Fase ketika saya pernah tantrum karena masih ingin stay di sekolah tempat Umi bekerja…
Pada ulang tahun saya ketika masih SD, masih jelas di ingatan saya, beliau riuh mencari lilin untuk saya tiup, bersama doa yang beliau panjatkan: supaya saya menjadi dokter nantinya.
Di kala beliau sedang mengunjungi rumah kami, tak pernah luput kami diberi uang jajan tambahan setiap kali kami mengambilkan minum, makan, atau melakukan perintah beliau.
Mungkin banyak memori bersama beliau yang belum berhasil di-recall, namun segala kebaikan tentangnya senantiasa disampaikan oleh orang lain kepada saya, karena saya bersekolah di tempat beliau pernah menjadi kepala sekolah. Siapapun guru senior yang mengetahui bahwa cucunya, kalimat yang sama selalu dilontarkan: beliau baik dan ramah sekali, patuh terhadap peraturan dan tidak segan-segan menindak pelanggar peraturan, bahkan rela dimutasi karena sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsipnya.
Di masa senjanya, beliau mengidap kencing manis.. Sama seperti saya, beliau adalah penyuka segala makanan. Saya paham betapa beratnya beliau menahan diri untuk tidak makan makanan enak di meja--atau yang Ia beli sendiri secara sembunyi-sembunyi. Hingga pada akhirnya, penyakit tersebut telah menyebabkan berbagai kerusakan di tubuhnya.
Beliau berpulang di hari Jum’at, 18 Juli 2014, bersamaan dengan lantunan tiga ayat terakhir QS Al-Fajr yang dibacakan oleh Umi.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”
Lalu pertama kalinya saya mendapat mimpi tentang Eyang setelah beberapa tahun kepergiannya, beliau berdiri dan tersenyum di belakang keluarga besar kami, saya yang melihatnya tiba-tiba kehilangan kemampuan berbicara, lidah menjadi kelu, hingga berkaca-kaca, karena ingin memberitahu keluarga bahwa Eyang sedang hadir. Ketika terbangun, tak sadar mata saya bergenang air mata.
Eyang, apa kabar disana? Pasti sangat menyenangkan ya, bersama dua cucu eyang yang juga sudah berada disana. Tahun depan, insyaAllah Nada sudah jadi dokter, seperti apa yang selalu Eyang doakan. Eyang Uti selalu menangis kalau ingat hal ini. Eyang Uti juga masih ngga tenang kalau pergi dari rumah dalam waktu lama, karena sudah terbiasa menemani Eyang di rumah. Doakan semoga Nada dan adik-adik bisa membuat bangga keluarga Yahya. Al Fatihah untuk Eyang, Zahra, dan Samudera..
Komentar
Posting Komentar